-Pulang
Sekarang sudah pukul sembilan lewat dua puluh menit tapi Berlian belum juga sampai di rumahnya. Danu sedari pukul sembilan tepat sudah setia menunggu kepulangan adiknya tersebut di teras rumah.
Ardanu Cahya Putra, kakak seorang Berliana Cahaya Putri yang sangat protektif terhadap adiknya tersebut. Danu tidak pernah mengizinkan Berlian untuk pulang lewat pukul sembilan meskipun itu jam sembilan lewat satu menit sekalipun. Kedua orang tua mereka sudah tiada sejak tiga tahun lalu akibat kecelakaan pesawat yang terjadi. Oleh karna itu, Berlian merupakan tanggung jawab Danu dan satu-satunya keluarga yang Danu punya.
Danu sangat cemas, karna sekarang sudah hampir pukul setengah sepuluh tetapi adik kesayangannya itu belum juga sampai rumah. Sudah berkali-kali Danu menelpon adiknya tetapi hasilnya nihil, tidak ada satu pun yang di jawab oleh Berlian.
Tepat pukul sepuluh kurang dua puluh lima menit sebuah mobil berhenti di depan rumah. Danu yang yakin kalau itu merupakan Berlian langsung bangun dari duduknya.
“Assalamu'alaikum”
“Jam berapa sekarang Berliana Cahaya Putri?”
“Mas, salam adek belum di jawab”
“Wa'alaikumsalam, Mas Danu tanya sama adek, sekarang jam berapa?”
Netra rubah Danu saat ini sangat tajam menatap dua orang di depannya. Danu bertanya dengan nada yang tenang tetapi tegas. Berlian sudah tau jika ia pulang lewat jam sembilan pasti mas nya itu akan marah.
“Yaya, gak mau jawab Mas Danu?”
“Mas Danu, tadi di jalan tuh macet banget. Mas tau sekarang malem minggu, pasti jalanan rame”
“Iya Mas Danu tau kok, Mas Danu juga abis nganterin Kala setelah kamu berangkat. Tapi Mas Danu sampe rumah gak sampe lewat jam sembilan. Kenapa di telpon gak di angkat?”
“Handphone Yaya mati”
“Yaya masuk, Mas Danu mau ngomong sama Sandi”
Tatapan Danu kini beralih kepada Sandi, teman Berlian.
“Mas”
“Masuk, Ya”
Berlian menatap Mas nya kesal, gadis itu masuk ke rumah dengan menghentakan kakinya kesal.
“Sandi, gue udah bilang sama lo bawa Berlian pulang sebelum jam sembilan”
“Iya, Mas. Gue minta maaf karna gak tepat waktu anterin Berlian pulang”
“Jelasin kenapa telat?”
“Mall rame banget, tadi setelah beli kado gue sama Berlian mau makan dan cari tempat makannya lumayan susah. Karna Berlian bilang dia laper banget dan belum makan nasi, jadi gue makan diluar mall. Kita keluar jam delapan pas kok, Mas”.
“Selesai makan kita langsung pulang. Gak kemana-mana dulu”
“Lo dan Berlian, bukan kita”
“Iya, gue dan Berlian”.
“Terus?”
“Ya itu, macet banget, parah. Apa lagi lampu merah deket Starbucks, Mas Danu tau kan itu lampu merah lama banget tapi lampu hijaunya cepet. Apa lagi sekarang malem minggu, bener-bener macet. Keluar restorannya aja udah macet”
Danu menghela nafas.
“Ya udah, kali ini lo gue maafin. Tapi kalau nanti lo gini lagi, jangan harap lo bisa jalan sama adek gue”
“Iya, Mas, maaf”
“Makasih udah anterin Berlian pulang. Udah malem, lo juga pulang, hati-hati”
“Kalau gitu gue pamit ya, Mas Danu. Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikumsalam”
Sandi meninggalkan kediaman Berlian dan menuju jalan pulang. Danu masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamar Berlian untuk meminta maaf karna tadi ia sempat marah terhadap adiknya.
Alasan Danu melakukan ini karna satu, Danu tidak ingin kehilangan orang yang sangat ia sayang untuk kedua kalinya.