Setelah memastikan pesan untuk Kala terkirim, Danu beranjak dari tempatnya untuk mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Ia merebahkan diri ke kasur, menutup mata dengan senyuman, berharap hari esok akan segara datang. – Tepat pukul setengah lima pagi, Danu terbangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat Danu bergegas keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel miliknya, menuju ke lobby hotel untuk check out dan bertemu dengan Dimas.

Mereka berduapun meninggalkan hotel. Karna jarak dari hotel ke stasiun memakan waktu sekitar setengah jam dan khawatir akan ketinggalan kereta, mereka berniat untuk membeli sarapan di stasiun.

Sesuai jadwal keberangkatan, kereta yang mereka tumpangi meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta pukul tujuh pagi. Danu mengabari Kala bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah melewati perjalanan sejauh lima ratus kilo meter, Danu dan Dimas sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah empat sore dengan selamat. Dimas yang sebelumnya sudah di kabari bahwa sang kakak telah sampai, pergi ke pintu keluar lebih dulu. Sedangkan Danu masih mencoba menelpon Kala, seharusnya perempuannya itu sudah sampai sejak sepuluh menit lalu. Namun sampai Danu keluar dari stasiun, panggilannya tidak juga terjawab. Ia mencoba menghubungi sang adik, tapi sebelum menekan tombol panggilan, ponselnya berbunyi, nama sang adik tertera disana.

“Halo, Adek dimana?”

“Halo, selamat pagi, dengan Mas Nu?”

Danu mengerutkan dahi, bingung. Alih-alih suara Berlian, yang ia dengar justru suara perempuan yang sangat asing.

“Ya, saya sendiri. Sebelumnya maaf, kamu siapa? Ini nomor adik saya, tolong kembalikan ponselnya ke adik saya”

“Maaf, Mas kalau saya lancang. Saya melihat kontak yang terakhir kali di hubungi Berliana Cahaya Putri adalah Mas Nu, Saya hanya ingin menginfokan bahwa Berliana Cahaya Putri mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai seorang perempuan bernama Kalandra Anandita. Saat ini Berliana Cahaya Putri sedang dalam pemeriksaan,”

“Kala? Kalandra gimana?”

“Pihak rumah sakit berserta dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin, namun karena benturan kencang di kepala dan terjadi pendarahan di dalamnya, Kalandra Anandita tidak bisa diselamatkan.”

Danu membeku, dunianya seolah berhenti, kejadian ini sangat diluar dugaannya. Ia menggenggam ponselnya erat. Air matanya tak bisa ia bendung. Lagi, ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“Kala..”

Dengan nafas yang tersengal, Danu terbangun dari tidurnya. Ia langsung meraih ponselnya, sekarang masih pukul tiga pagi, kemudian beralih menghubungi Kala. Panggilan pertama Kala tidak menjawab, Danu kembali mencoba menghubungi, setelah nada sambung ke tiga panggilannya terjawab.

“Kala”

Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Kala menjawab, “Danu kenapa telpon jam segini?”

“Kala”

“Iya, Danu kenapaa?”

“Nanti kamu gak usah jemput aku ya”

“Kok gituu? Kemaren kamu udah ngebolehin loh, kenapa tiba-tiba gak boleh?”

“Gapapa, gak usah ya, Kala. Aku bisa sendiri”

“Enggak, aku tetep mau jemput kamu”

“La... Gak usah ya, Sayang?”

*“Kenapa sih, Nu? Aku gak suka deh kamu kayak gini. Masih terlalu pagi, Nu buat adu argumen” *

“Kalandra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Takut, La..”

Kala mendengar suara Danu yang bergetar merasa khawatir, “Danu, maaf tadi aku kasar.. Kamu abis mimpi buruk ya? Jadinya kebangun.”

“Iya, aku takut, La. Aku takut kamu dan adek kenapa-kenapa..”

“Danu, aku gak akan kenapa-kenapa, boleh ya?”

Dany menghela nafas, “Ya udah boleh, tapi naik taksi ya? Jangan bawa mobil sendiri”

“Iya nanti aku naik taksi. Sekarang tidur lagi aja ya, Danu. Masih pagi banget”

“Iya, maaf ya aku bangunin kamu. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

“Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya. Udah ya? Aku masih ngantuk, Nu.”

“Jangan di matiin”

“Kenapa, Danu?”

“Besok aku masih bisa denger suara kamu kan?”

“Nu, jangan gitu aku sedih jadinya”

Danu tidak lagi bisa menahan air mata nya, ia benar-benar menangis. Kembali mengingat mimpinya, “Mimpi aku berasa nyata banget, Kala. Sakit rasanya.”

“Danu itu cuma mimpi. Gak akan terjadi. Jangan nangis, Danu”

“Sayang..”

“Iya, Danu?”

“Kalandra”

“Iyaa”

“Kala”

“Kenapa, Sayang?”

“Nanti pas ketemu aku boleh peluk kamu gak?”

“Boleh, boleh banget. Nanti pas ketemu, langsung aku peluk. Udah ya, Danu jangan nangis. Aku sedih denger kamu nangis.”

“Makasih ya, Sayang. Tolong jaga diri kamu dan Yaya. Aku sayang banget sama kalian.”

“Iya, Nu aku juga sayang kamu banget bangeet. Sekarang bobo yaa, gak usah di pikirin. Insyaallah aku dan Yaya besok bakalan baik-baik aja.”

“Iya, La.”

“Aku tutup yaa, sleep well, Danu. Besok aku terus kabarin kamu.”

“Iya, kamu juga tidur yang nyenyak ya, see you.”

Sambunganpun terputus. Danu kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan badannya. Pikiran dan hatinya sudah cukup tenang setelah menghubungi Kala. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa besok Kala tidak mengendarai mobil pribadinya dan memilih menaiki taksi.

Esok harinya saat Danu sampai di stasiun Pasar Senen ia langsung menuju ke pintu keluar, sebelumnya Kala sudah mengabari bahwa ia dan Yaya telah sampi. Senyum Danu mengembang, rasa takut akan mimpinya hilang begitu saja ketika melihat dua perempuan yang sangat ia sayangi telah menunggunya di pintu keluar. Danu mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Kala, menenggelamkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku sama Yaya gak kenapa-kenapa, Danu”.

Danu mengangguk, “iya, makasih ya udah dengerin aku.”

Danu melepaskan pelukannya dari Kala, beralih untuk memeluk sang adik. Ketiganya kemuadian beranjak pergi meninggalkan stasiun.