altuniverseu

Selesai mengerjakan semua pekerjaan dan sudah memasuki jam pulang kerja, Danu bergegas merapihkan barang-barangnya kemudian berpamitan dengan tim kerjanya.

“Semuanya saya duluan ya”

Seisi ruangan serentak menjawab, “Iya, Pak!”

“Eh, Nu, buru-buru banget kayaknya kenapa dah?” Tanya Dimas, salah satu teman dekat Danu di kantor.

“Cewe gue sakit, udah janji mau ke rumahnya”

“Oh, ya udah hati-hati. Cepet sembuh ya cewek lo”

“Yo, thanks. Gue berangkat”

Danupun buru-buru jalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Karna sore ini termasuk jam pulang kantor, jalanan padat akan kendaraan. Tapi setidaknya masih bisa bergerak, tidak padat merayap. Di perjalanan Danu mampir sebentar untuk membeli jus jambu dan bubur ayam untuk Kala dan sate padang untuk mama Kala. Akhirnya Danu sampai di kediaman Kala tepat pukul setengah lima sore.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, sebentar.”

Pintu rumah terbuka dan menampilkan mama Kala dengan pakaian khas rumahannya dan senyum yang terpatri di wajahnya.

“Eh Danuu, masuk-masuk”

“Iya, Ma. Ini Danu beli sate padang buat Mama”

“Ya Allah, Danu, repot-repot deh, makasih yaa”

“Sama-sama, Ma. Kala?”

“Oh iya, langsung ke kamarnya aja. Bentar ya, Danu, kamu mama bikinin teh anget. Capek pasti pulang kerja”

“Eh, Ma, gak usah. Danu sebentar aja kok”

“Aduh, Danu. Mama gak yakin kamu disini cuma sebentar, Kala pasti gak bolehin kamu pulang cepet-cepet. Udah sana naik, Mama ke dapur dulu,” di tepuknya bahu Danu dengan senyuman jahil yang terpatri. Kemudian sang mama pergi ke dapur.

“Makasih, Ma”

Danu beranjak pergi, sesampainya di kamar Kala ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendengar sautan dari sang empunya kamar, Danupun membuka pintu kemudian masuk dan membiarkan pintunya terbuka.

“Danu..”

“Hai,” Danu menaruh jus dan bubur ayam yang ia beli di atas nakas lalu duduk di pinggir ranjang.

“Pusing gak?”

“Pusing”

Tangan kanan Danu bergerak mengelus kepala Kala.

“Udah minum obat?”

“Belum, aku belum makan”

Danu menyiapkan bubur ayam yang tadi ia beli untuk di makan Kala. Kemudian membantu Kala duduk di kasurnya.

“Makan dulu ya aku suapin”

“Kamu kenapa beli bubur ayam? aku mau ayam geprek”

“Kamu lagi sakit, gak usah macem-macem. Nanti kalau udah sembuh baru aku beliin ayam geprek”

“Bener yaa?”

“Iya, Sayangg. Buka mulutnya, aaaa”

Mama Kala datang dengan membawa air teh hangat untuk Danu dan botol minum berisi air putih untuk Kala.

“Aduh, manja banget,” ucap mama Kala dengan kekehan.

“Ini Danu tehnya Mama taruh sini ya. Abis makan jangan lupa minum obat ya, Kala. Minumnya udah Mama bawain nih”

“Iya, Mama”

“Makasih, Ma, tehnya”

“Mama ke bawah lagi ya, Kala jangan macem-macam kamu”

“Ya Allah iya, Ma”

Danu yang mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya bisa tertawa pelan. Setelahnya mama Kala pergi keluar kamar.

“Kamu udah ke dokter?”

“Udah tadi siang. Aku kan emang dari dua hari lalu gak enak badan,”

Sesekali ucapan Kala terhenti karna menerima suapan bubur dari Danu.

“Terus kemaren diajak Ivy jajan pinggir jalan, ternyata bahan makanannya ada yang gak cocok sama aku jadinya kata dokter, aku keracunan terus kalau minggu depan belum sembuh harus di rawat,”

“Ivy juga abis makan itu katanya buang-buang air tapi gak sampe drop kayak aku sih untungnya”

“Lain kali hati-hati ya kalau jajan”

“Iyaa. Nu, udah makannya perut aku mulai gak enak”

“Satu kali lagi”

“Enggak”

“Ya udah, air putihnya minum nanti minum obat”

“Obatnya di laci nakas”

Danu memberikan botol minum kepada Kala kemudian merapihkan bubur ayam yang masih tersisa banyak. Ia mengambil obat Kala yang ada di laci nakas.

Setelah menyiapkan obat untuk Kala minum nanti, tangan Danu bergerak merapihkan rambut Kala yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga.

Merasakan perutnya yang mual, Kala buru-buru bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Danu mengikuti Kala ke kamar mandi, khawatir perempuannya itu terjatuh karna badannya terlihat lemas. Danu juga membantu memegangi rambut Kala agar tidak kotor, sesekali ia juga memijat tengkuk Kala agar Kala bisa mengeluarkan semua isi perutnya.

“Udah?”

Kala mengangguk. Tanpa rasa jijik Danu mengusap wajah Kala menggunakan air dengan lembut. “Kamu balik lagi sana ke dalem, ini biar aku yang bersihin”

“Aku aja”

“Jangan paksain, kamu lemes gitu. Dah sana masuk, obatnya di minum”

Kala kembali ke dalam kamar kemudian meminum obatnya. Karna kepalanya yang pusing dan juga rasa kantuk yang melanda akibat efek samping obat, ia merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian Danu datang dengan lengan kemeja yang di gulung dan satu kancing atas yang terbuka.

Danu menghampiri Kala kemudian kembali duduk di pinggir ranjang, tangannya kembali mengelus kepala Kala, “obatnya udah di minum?”

“Udah. Danu jusnya buat nanti malem aja deh, maaf ya”

“Gapapaa, sekarang kamu istirahat aja yaa. Aku pulang dulu”

“Enggak! Jangan pulang, nanti aja”

“Sebentar lagi maghrib, Sayang”

“Ya makanya, maghriban disini dulu aja”

“Ya udah aku tetep disini tapi kamu tidur yaa”

Kala mengangguk, memposisikan badannya agar menghadap Danu, melingkarkan tangannya di perut Danu. Tangan kanan Danu setia mengelus kepala Kala agar perempuannya itu cepat tertidur.

Tepat adzan Maghrib berkumandang, nafas Kala sudah mulai teratur. Setelah memastikan Kala benar-benar tertidur, Danu mengambil guling yang berada di sisi kanan kasur, kemudian dengan gerakan yang sangat pelan memindahkan tangan Kala yang melingkar di perutnya ke guling yang tadi ia ambil.

Di pandangnya wajah pucat Kala lamat-lamat. Danu selalu merasa tidak tega jika harus melihat Kala jatuh sakit seperti saat ini. Ia tidak suka melihat orang yang ia sayangi merasakan sakit. Jika Danu bisa memindahkan rasa sakit yang Kala rasa kepada dirinya, ia akan memindahkannya. Katakan Danu sebagai budak cinta, – yang biasa orang-orang sebut dengan bucin- tapi memang begitu adanya. 5 tahun menjalin hubungan dengan Kala, Danu tidak pernah merasakan bosan. Justru setiap tahun atau bahkan setiap harinya, rasa sayang Danu terhadap Kala selalu bertambah dan tidak pernah pudar. Danu sangat menyayangi Kala, karna saat ini yang ia punya hanya Kala dan sang adik, Berlian. Danu tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Kala, habis sholat aku langsung pulang ya. Kamu cepet sembuh, aku sedih liat kamu sakit. Aku sayang kamu,” di kecupnya kening Kala ringan. Danu bangkit dari duduknya, bertepatan dengan mama Kala yang masuk ke dalam kamar Kala.

“Danu, Kala nya tidur?”

“Eh, iya, Ma. Baru aja pules”

“Bener 'kan apa kata Mama, Kala gak biarin kamu cepet-cepet pulang”

Danu yang mendengar gurauan mama Kala hanya terkekeh pelan.

“Kamu Sholat dulu aja disini, Danu”

“Iya, Ma, Danu emang niatnya mau numpang sholat disini”

“Nah kebetulan ada papanya Kala baru pulang, beliau minta kamu jadi imam”

Danu diam sejenak untuk berpikir. Ia juga sudah lama tidak menjadi imam saat sholat semenjak kepergian kedua orang tuanya. Akhirnya Danu menyetujui permintaan papa Kala.

“Gimana, Danu? Mau ya?”

“Iya Danu mau kok, Ma”

“Alhamdulillah, yuk turun. Papanya Kala lagi wudhu nanti abis itu kamu, gantian”

Danu dan mama Kala keluar dari kamar Kala kemudian beralih ke ruangan yang memang di sediakan untuk melakukan ibadah apa bila ada tamu datang dan ingin menumpang sholat.

Danu selalu bersyukur, ia bisa kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga dari orang tua sang kekasih. Kedua orang tua Kala selalu menganggap Danu seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga percaya bahwa Danu adalah lelaki yang bisa menjaga Kala dan mereka juga percaya Danu tidak akan berbuat macam-macam terhadap anak gadis semata wayangnya.

Selesai melaksankan ibadah sholat maghrib, Danu berpamitan kepada orang tua Kala untuk kembali ke rumah khawatir sang adik sudah menunggu. Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil milik Danu keluar dari pekarangan rumah Kala.

Setelah dapet info dari Miko kalau Berlian lagi ada di Ancol, gue buru-buru berangkat ke Ancol. Sebenernya tadi gue masih ada kerjaan di kantor, tapi terpaksa harus gue tinggal. Karna percuma mau gue kerjain juga yang gue pikirin Berlian. Gue gak bisa tenang kalau udah kayak gini.

Sebenernya gue gak expect kalau Berlian bakalan semarah ini sama gue sampe menghindar. Sebelum-sebelumnya ya pernah sih ngambek atau marah, tapi gak sampe kayak gini. Paling di bujuk dikit langsung luluh.

Sesampainya gue di Ancol, gue langsung minta Miko untuk shareloc tempat dia photoshoot. Tanpa pikir panjang gue bergegas pergi ke lokasi yang dikirimkan Miko.

Bener aja, gue ngeliat Berlian lagi duduk di pinggir pantai sambil nangis. Tanpa pikir panjang, gue menghampiri Berlian dan duduk disampingnya.

“Adek”

“Mas Danu ngapain kesini?”

“Adek, Mas minta maaf yaa”

“Minta maaf doang, nanti juga gitu lagi”

“Enggak gitu lagi, Mas Nu janji. Mulai sekarang, Adek boleh main sama siapa aja, temenan sama siapa aja. Mas Nu gak akan larang-larang adek lagi”

“Mas Nu janji?”

Gue bergerak untuk memeluk Berlian, “Janji. Maaf ya, Adek, setelah di pikir-pikir emang selama ini Mas Nu terlalu over ke Adek. Sekarang Mas Nu gak akan larang-larang Adek lagi buat main sama siapapun. Tapi bukan berarti Adek bebas banget ya, adek harus tetep izin sama Mas Nu. Sekarang Adek udah gede, Mas Nu percaya kok kalau Adek bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk. Maafin Mas Danu yaa”.

“Mas Nu, makasih ya udah mau ngertiin Adek. Adek juga minta maaf kalau Adek kekanakan”

“Iyaaa, udah ah maaf-maafannya lebaran masih lama. Baikan nih kita?”

“Baikan”

Problem solved.

Mulai saat ini, gue gak akan ngelarang Berlian untuk ngelakuin apa yang dia pengen. Gue gak akan ngelarang Berlian untuk berteman dengan siapa aja. Karna gue sadar, sebagai kakak dan satu-satunya keluarga yang dia punya gue harus ngedukung apa yang dia mau. Bukan ngelarang ini dan itu karna yang ada Berlian malah tertekan.

Mas percaya sama Adek.

Danu's POV

Gue sadar kok kalau perlakuan gue ke Berlian itu over banget sampe adek gue itu udah capek. Gue paham kalau Berlian pengen bebas kayak temen-temennya, keliatan dari apa yang di bilang ke gue di chat. Tapi gue gak bisa ngebiarin gitu aja.

Sedikit cerita kenapa gue terkesan strict ke adek gue.

Dulu, waktu Berlian masih kelas tiga SMA —beberapa bulan setelah Ayah dan Bunda mengalami kecelakaan pesawat— dia pernah di deketin sama temen kelasnya. Awalnya gue kira temennya itu serius suka atau tertarik sama adek gue. Ternyata enggak, adek gue cuma di jadiin taruhan sama dia. Jelas gue marah banget, gue merasa gagal ngejagain adek gue. Gue merasa bersalah sama Ayah.

Semenjak saat itu, gue ngelarang adek gue untuk deket-deket sama cowok lain selain Dikta. Kenapa Dikta gue bolehin deket sama Berlian? Karna Dikta udah temenan sama Berlian semenjak SMP, jadi gue percaya sama dia. Soal Mahdi, gue bisa percaya sama dia karna awal dia temenan sama adek gue bisa liat, dia anaknya ga macem-macem, selayaknya teman biasa.

Karna itu, gue gak bisa ngebiarin adek gue deket sama cowok. Gue masih takut adek gue disakitin lagi buat yang kedua kalinya. Gue gak mau liat adek gue nangis karna cowok. Gue gak suka liat adek gue sedih.

Dimana Berlian?

Setelah melakukan perjalanan dari kantor, akhirnya Danu sampai di kampus Berlian. Danu keluar dari mobil untuk melihat apakah adiknya itu sudah keluar. Danu berniat menelpon Berlian untuk menanyakan dimana si adik berada. Belum sempat Danu menelpon Berlian, Citra menghampiri Danu.

“Mas Danu?”

“Eh, Citra”

“Mas Danu ngapain disini?”

“Gue mau jemput Berlian. Berlian udah selesai kelas kan ya?”

“Loh? Berliannya udah pergi, Mas dari tadi”

Danu mengerutkan kening, rupanya Berlian benar-benar tidak mau di jemput dengannya.

“Oh? Lo tau gak dia pergi sama siapa? Atau kemana gitu?”

“Duh, Mas, sorry gue gak tau. Soalnya tadi dia langsung pergi buru-buru, gue tanya mau kemana gak di jawab. Udah coba di telepon?”

“Belum, nanti gue telepon. Thanks, ya Citra”

“Iya, Mas sama-sama. Kalau gitu gue duluan ya, Mas”

“Iya, silahkan”

Danu menghela nafas kasar, bergegas pergi dari kampus Berlian untuk mencari keberadaan sang adik.

Dimana Berlian?

Setelah melakukan perjalanan dari kantor, akhirnya Danu sampai di kampus Berlian. Danu keluar dari mobil untuk melihat apakah adiknya itu sudah keluar. Danu berniat menelpon Berlian untuk menanyakan dimana si adik berada. Belum sempat Danu menelpon Berlian, Citra menghampiri Danu.

“Mas Danu?”

“Eh, Citra”

“Mas Danu ngapain disini?”

“Gue mau jemput Berlian. Berlian udah selesai kelas kan ya?”

“Loh? Berliannya udah pergi, Mas dari tadi”

Danu mengerutkan kening, rupanya Berlian benar-benar tidak mau di jemput dengannya.

“Oh? Lo tau gak dia pergi sama siapa? Atau kemana gitu?”

“Duh, Mas, sorry gue gak tau. Soalnya tadi dia langsung pergi buru-buru, gue tanya mau kemana gak di jawab. Udah coba di telepon?”

“Belum, nanti gue telepon. Thanks, ya Citra”

“Iya, Mas sama-sama. Kalau gitu gue duluan ya, Mas”

“Iya, silahkan”

Danu menghela nafas kasar, dengan cepat menghubungi Berlian agar ia tau dimana keberadaan Berlian. Namun nihil, Berlian sama sekali tidak memberi tau dimana keberadaanya sekarang.

Danu bergegas pergi dari kampus Berlian untuk mencari keberadaan sang adik.

Midnight Talk

“Adek, ayo keluar Mas Nu punya McFlurry”

Mas Danu bisa banget bujuknya, padahal gue pengen ngambek sama dia. Kalau udah bawa-bawa McFlurry gimana bisa nolak. Akhirnya gue bangun dari tempat tidur dan jalan ke arah pintu.

“Mana McFlurrynya?”

“Emang Mas Nu bilang mau kasih ke adek? Mas cuma bilang Mas Nu punya McFlurry”

“Ih! Mas Danuuu!”

“Hahaha, jangan manyun gitu. Udah jelek tambah jelek”

“Tau deh, males Adek”

Gue yang tadinya mau puter balik masuk kamar lagi gak jadi, karna tangan gue di tarik keluar sama mas Danu.

“Heh! itu McFlurrynya ada di freezer. Sana ambil, abis itu ke ruang keluarga, Mas mau ngomong”

“Yey! Makasih Mas Nuuu, oke nanti adek ke sana”

Biasanya kalau mas Danu udah ajak gue ngobrol di ruang keluarga, yang di bahas lumayan serius. Gue jadi penasaran kira-kira mas Danu mau ngomong apa ke gue. Setelah ambil McFlurry di freezer gue langsung samperin mas Danu ke ruang keluarga.

“Kenapa, Mas?”

“Ya, kamu pasti kesel ya sama Mas Nu karna selalu larang kamu pulang malem?”

Tumben mas Danu bahas masalah ini. Biasanya dia gak pernah angkat bicara soal masalah ini, pun dengan gue yang gak pernah nyinggung terang-terangan ke mas Danu.

“Iya, kesel banget. Soalnya Mas Danu kadang marahin temen Adek juga, gak cuma Adek”

“Dek, maaf ya?”

Gue kaget. Bener-bener gak expect kalau Mas Danu bakalan minta maaf soal ini. Iya gue emang kesel sama mas Danu, tapi gue gak marah, gue gak berharap mas Danu minta maaf kayak gini. Justru gue ngerasa gak enak sama Mas Danu kalau dia maaf kayak gini. Kalian pasti tau gimana rasanya saat orang yang kalian sayang minta maaf sama kalian, padahal dia gak salah dan gak buat kalian marah.

“Mas....”

“Maaf ya selama ini Mas Nu sering marah ke Adek kalau Adek pulang malem dan bikin Adek kesel”

“Mas Nu khawatir, Dek kalau jam sembilan Adek belum pulang. Mas takut, Mas Nu gak mau Adek kenapa-kenapa. Mas Nu gak mau kehilangan Adek kayak ayah dan bunda ninggalin kita”

Duh, gue gak bisa banget deh kalau udah begini huhu mata gue berkaca-kaca. McFlurry yang tadi, gue taruh di meja supaya gak ke distract. Maaf ya McFlurry, kali ini kamu tersingkirkan.

“Mungkin Adek nganggep Mas Nu over protektif ke Adek. Tapi Mas rasa, Mas Nu gak segitunya protektif ke Adek kan?”

“Iya, Mas Nu masih bolehin adek pergi-pergi”

“Nah itu, Mas Nu cuma khawatir aja. Mas Nu sayang sama adek, makanya Mas Nu kayak gini. Mas Nu cuma punya Adek,”

Ini sekali ngedip air mata gue udah turun. Mas Danu kenapa bisa—

“Gak deng, Mas juga punya Kala hehe.”

Gak jadi, orangnya bucin.

“Bucin”

“Kasian jomblo”

“Kan Mas Danu gak bolehin Adek pacaran!”

“Hahaha, itu karna mereka juga gak baik buat kamu. Ya pokoknya itu yang Mas mau omongin sama kamu”

“Makasih ya Mas Danu, udah sayang banget sama Adek. Maaf juga Adek kemarin-kemarin gak bisa ngertiin khawatirnya Mas Danu ke Adek. Tapiii, sekarang Adek udah ngerti kenapa Mas Nu kayak gitu”

“Bagus kalau gitu. Udah ah jangan nangis, bobo udah malem”

“Gak tuh adek gak nangis. Nanti, McFlurry nya belum abis tau Mas. Abisin dulu ya”

“Kenapa diambil???”

“Gak, besok aja. Udah malem nanti kamu batuk. Daaah Mas ngantuk mau bobo”

Kakak gak jelas. Tadi ngasih sekarang diambil lagi. Mana langsung kabur.

“Eh, Dek. Besok Mas gak bisa anter, kamu kelas siang kan?”

“Iya”

“Ya udah, berangkat bareng Citra atau gak Dikta.”

“Iyaaaa Mas Danuu”

“Selamat bobo”

Midnight Talk

“Adek, ayo keluar Mas Nu punya McFlurry”

Mas Danu bisa banget bujuknya, padahal gue pengen ngambek sama dia. Kalau udah bawa-bawa McFlurry gimana bisa nolak. Akhirnya gue bangun dari tempat tidur dan jalan ke arah pintu.

“Mana McFlurrynya?”

“Emang Mas Nu bilang mau kasih ke adek? Mas cuma bilang Mas Nu punya McFlurry”

“Ih! Mas Danuuu!”

“Hahaha, jangan manyun gitu. Udah jelek tambah jelek”

“Tau deh, males Adek”

Gue yang tadinya mau puter balik masuk kamar lagi gak jadi, karna tangan gue di tarik keluar sama mas Danu.

“Heh! itu McFlurrynya ada di freezer. Sana ambil, abis itu ke ruang keluarga, Mas mau ngomong”

“Yey! Makasih Mas Nuuu, oke nanti adek ke sana”

Biasanya kalau mas Danu udah ajak gue ngobrol di ruang keluarga, yang di bahas lumayan serius. Gue jadi penasaran kira-kira mas Danu mau ngomong apa ke gue. Setelah ambil McFlurry di freezer gue langsung samperin mas Danu ke ruang keluarga.

“Kenapa, Mas?”

“Ya, kamu pasti kesel ya sama Mas Nu karna selalu larang kamu pulang malem?”

Tumben mas Danu bahas masalah ini. Biasanya dia gak pernah angkat bicara soal masalah ini, pun dengan gue yang gak pernah nyinggung terang-terangan ke mas Danu.

“Iya, kesel banget. Soalnya Mas Danu kadang marahin temen Adek juga, gak cuma Adek”

“Dek, maaf ya?”

Gue kaget. Bener-bener gak expect kalau Mas Danu bakalan minta maaf soal ini. Iya gue emang kesel sama mas Danu, tapi gue gak marah, gue gak berharap mas Danu minta maaf kayak gini. Justru gue ngerasa gak enak sama Mas Danu kalau dia maaf kayak gini. Kalian pasti tau gimana rasanya saat orang yang kalian sayang minta maaf sama kalian, padahal dia gak salah dan gak buat kalian marah.

“Mas....”

“Maaf ya selama ini Mas Nu sering marah ke Adek kalau Adek pulang malem dan bikin Adek kesel”

“Mas Nu khawatir, Dek kalau jam sembilan Adek belum pulang. Mas takut, Mas Nu gak mau Adek kenapa-kenapa. Mas Nu gak mau kehilangan Adek kayak ayah dan bunda ninggalin kita”

Duh, gue gak bisa banget deh kalau udah begini huhu mata gue berkaca-kaca. McFlurry yang tadi, gue taruh di meja supaya gak ke distract. Maaf ya McFlurry, kali ini kamu tersingkirkan.

“Mungkin Adek nganggep Mas Nu over protektif ke Adek. Tapi Mas rasa, Mas Nu gak segitunya protektif ke Adek kan?”

“Iya, Mas Nu masih bolehin adek pergi-pergi”

“Nah itu, Mas Nu cuma khawatir aja. Mas Nu sayang sama adek, makanya Mas Nu kayak gini. Mas Nu cuma punya Adek,”

Ini sekali ngedip air mata gue udah turun. Mas Danu kenapa bisa—

“Gak deng, Mas juga punya Kala hehe.”

Gak jadi, orangnya bucin.

“Bucin”

“Kasian jomblo”

“Kan Mas Danu gak bolehin Adek pacaran!”

“Hahaha, itu karna mereka juga gak baik buat kamu. Ya pokoknya itu yang Mas mau omongin sama kamu”

“Makasih ya Mas Danu, udah sayang banget sama Adek. Maaf juga Adek kemarin-kemarin gak bisa ngertiin khawatirnya Mas Danu ke Adek. Tapiii, sekarang Adek udah ngerti kenapa Mas Nu kayak gitu”

“Bagus kalau gitu. Udah ah jangan nangis, bobo udah malem”

“Gak tuh adek gak nangis. Nanti, McFlurry nya belum abis tau Mas. Abisin dulu ya”

“Kenapa diambil???”

“Gak, besok aja. Udah malem nanti kamu batuk. Daaah Mas ngantuk mau bobo”

Kakak gak jelas. Tadi ngasih sekarang diambil lagi. Mana langsung kabur.

“Eh, Dek. Besok Mas gak bisa anter kamu kelas siang kan?”

“Iya”

“Ya udah, berangkat bareng Citra atau gak Dikta.”

“Iyaaaa Mas Danuu”

“Selamat bobo”

Midnight Talk

“Adek, ayo keluar Mas Nu punya McFlurry”

Mas Danu bisa banget bujuknya, padahal gue pengen ngambek sama dia. Kalau udah bawa-bawa McFlurry gimana bisa nolak. Akhirnya gue bangun dari tempat tidur dan jalan ke arah pintu.

“Mana McFlurrynya?”

“Emang Mas Nu bilang mau kasih ke adek? Mas cuma bilang Mas Nu punya McFlurry”

“Ih! Mas Danuuu!”

“Hahaha, jangan manyun gitu. Udah jelek tambah jelek”

“Tau deh, males Adek”

Gue yang tadinya mau puter balik masuk kamar lagi gak jadi, karna tangan gue di tarik keluar sama mas Danu.

“Heh! itu McFlurrynya ada di freezer. Sana ambil, abis itu ke ruang keluarga, Mas mau ngomong”

“Yey! Makasih Mas Nuuu, oke nanti adek ke sana”

Biasanya kalau mas Danu udah ajak gue ngobrol di ruang keluarga, yang di bahas lumayan serius. Gue jadi penasaran kira-kira mas Danu mau ngomong apa ke gue. Setelah ambil McFlurry di freezer gue langsung samperin mas Danu ke ruang keluarga.

“Kenapa, Mas?”

“Ya, kamu pasti kesel ya sama Mas Nu karna selalu larang kamu pulang malem?”

Tumben mas Danu bahas masalah ini. Biasanya dia gak pernah angkat bicara soal masalah ini, pun dengan gue yang gak pernah nyinggung terang-terangan ke mas Danu.

“Iya, kesel banget. Soalnya Mas Danu kadang marahin temen Adek juga, gak cuma Adek”

“Dek, maaf ya?”

Gue kaget. Bener-bener gak expect kalau Mas Danu bakalan minta maaf soal ini. Iya gue emang kesel sama mas Danu, tapi gue gak marah, gue gak berharap mas Danu minta maaf kayak gini. Justru gue ngerasa gak enak sama Mas Danu kalau dia maaf kayak gini. Kalian pasti tau gimana rasanya saat orang yang kalian sayang minta maaf sama kalian, padahal dia gak salah dan gak buat kalian marah.

“Mas....”

“Maaf ya selama ini Mas Nu sering marah ke Adek kalau Adek pulang malem dan bikin Adek kesel”

“Mas Nu khawatir, Dek kalau jam sembilan Adek belum pulang. Mas takut, Mas Nu gak mau Adek kenapa-kenapa. Mas Nu gak mau kehilangan Adek kayak ayah dan bunda ninggalin kita”

Duh, gue gak bisa banget deh kalau udah begini huhu mata gue berkaca-kaca. McFlurry yang tadi, gue taruh di meja supaya gak ke distract. Maaf ya McFlurry, kali ini kamu tersingkirkan.

“Mungkin Adek nganggep Mas Nu over protektif ke Adek. Tapi Mas rasa, Mas Nu gak segitunya protektif ke Adek kan?”

“Iya, Mas Nu masih bolehin adek pergi-pergi”

“Nah itu, Mas Nu cuma khawatir aja. Mas Nu sayang sama adek, makanya Mas Nu kayak gini. Mas Nu cuma punya Adek,”

Ini sekali ngedip air mata gue udah turun. Mas Danu kenapa bisa—

“Gak deng, Mas juga punya Kala hehe.”

Gak jadi, orangnya bucin.

“Bucin”

“Kasian jomblo”

“Kan Mas Danu gak bolehin Adek pacaran!”

“Hahaha, itu karna mereka juga gak baik buat kamu. Ya pokoknya itu yang Mas mau omongin sama kamu”

“Makasih ya Mas Danu, udah sayang banget sama Adek. Maaf juga Adek kemarin-kemarin gak bisa ngertiin khawatirnya Mas Danu ke Adek. Tapiii, sekarang Adek udah ngerti kenapa Mas Nu kayak gitu”

“Bagus kalau gitu. Udah ah jangan nangis, bobo udah malem”

“Gak tuh adek gak nangis. Nanti, McFlurry nya belum abis tau Mas. Abisin dulu ya”

“Kenapa diambil???”

“Gak, besok aja. Udah malem nanti kamu batuk. Daaah Mas ngantuk mau bobo”

Kakak gak jelas. Tadi ngasih sekarang diambil lagi. Mana langsung kabur.

“Eh, Dek. Besok Mas gak bisa anter kamu kelas siang kan?”

“Iya”

“Ya udah, berangkat bareng Citra atau gak Dikta.”

“Iyaaaa Mas Danuu”

“Selamat bobo”

Midnight Talk

“Adek, ayo keluar Mas Nu punya McFlurry”

Mas Danu bisa banget bujuknya, padahal gue pengen ngambek sama dia. Kalau udah bawa-bawa McFlurry gimana bisa nolak. Akhirnya gue bangun dari tempat tidur dan jalan ke arah pintu.

“Mana McFlurrynya?”

“Emang Mas Nu bilang mau kasih ke adek? Mas cuma bilang Mas Nu punya McFlurry”

“Ih! Mas Danuuu!”

“Hahaha, jangan manyun gitu. Udah jelek tambah jelek”

“Tau deh, males Adek”

Gue yang tadinya mau puter balik masuk kamar lagi gak jadi, karna tangan gue di tarik keluar sama mas Danu.

“Heh! itu McFlurrynya ada di freezer. Sana ambil, abis itu ke ruang keluarga, Mas mau ngomong”

“Yey! Makasih Mas Nuuu, oke nanti adek ke sana”

Biasanya kalau mas Danu udah ajak gue ngobrol di ruang keluarga, yang di bahas lumayan serius. Gue jadi penasaran kira-kira mas Danu mau ngomong apa ke gue. Setelah ambil McFlurry di freezer gue langsung samperin mas Danu ke ruang keluarga.

“Kenapa, Mas?”

“Ya, kamu pasti kesel ya sama Mas Nu karna selalu larang kamu pulang malem?”

Tumben mas Danu bahas masalah ini. Biasanya dia gak pernah angkat bicara soal masalah ini, pun dengan gue yang gak pernah nyinggung terang-terangan ke mas Danu.

“Iya, kesel banget. Soalnya Mas Danu kadang marahin temen Adek juga, gak cuma Adek”

“Dek, maaf ya?”

Gue kaget. Bener-bener gak expect kalau Mas Danu bakalan minta maaf soal ini. Iya gue emang kesel sama mas Danu, tapi gue gak marah, gue gak berharap mas Danu minta maaf kayak gini. Justru gue ngerasa gak enak sama Mas Danu kalau dia maaf kayak gini. Kalian pasti tau gimana rasanya saat orang yang kalian sayang minta maaf sama kalian, padahal dia gak salah dan gak buat kalian marah.

“Mas....”

“Maaf ya selama ini Mas Nu sering marah ke Adek kalau Adek pulang malem dan bikin Adek kesel”

“Mas Nu khawatir, Dek kalau jam sembilan Adek belum pulang. Mas takut, Mas Nu gak mau Adek kenapa-kenapa. Mas Nu gak mau kehilangan Adek kayak ayah dan bunda ninggalin kita”

Duh, gue gak bisa banget deh kalau udah begini huhu mata gue berkaca-kaca. McFlurry yang tadi, gue taruh di meja supaya gak ke distract. Maaf ya McFlurry, kali ini kamu tersingkirkan.

“Mungkin Adek nganggep Mas Nu over protektif ke Adek. Tapi Mas rasa, Mas Nu gak segitunya protektif ke Adek kan?”

“Iya, Mas Nu masih bolehin adek pergi-pergi”

“Nah itu, Mas Nu cuma khawatir aja. Mas Nu sayang sama adek, makanya Mas Nu kayak gini. Mas Nu cuma punya Adek,”

Ini sekali ngedip air mata gue udah turun. Mas Danu kenapa bisa—

“Gak deng, Mas juga punya Kala hehe.”

Gak jadi, orangnya bucin.

“Bucin”

“Kasian jomblo”

“Kan Mas Danu gak bolehin Adek pacaran!”

“Hahaha, itu karna mereka juga gak baik buat kamu. Ya pokoknya itu yang Mas mau omongin sama kamu”

“Makasih ya Mas Danu, udah sayang banget sama Adek. Maaf juga Adek kemarin-kemarin gak bisa ngertiin khawatirnya Mas Danu ke Adek. Tapiii, sekarang Adek udah ngerti kenapa Mas Nu kayak gitu”

“Bagus kalau gitu. Udah ah jangan nangis, bobo udah malem”

“Gak tuh adek gak nangis. Nanti, McFlurry nya belum abis tau Mas. Abisin dulu ya”

“Kenapa diambil???”

“Gak, besok aja. Udah malem nanti kamu batuk. Daaah Mas ngantuk mau bobo”

Kakak gak jelas. Tadi ngasih sekarang diambil lagi. Mana langsung kabur.

“Eh, Dek. Besok Mas gak bisa anter kamu kelas siang kan?”

“Iya”

“Ya udah, berangkat bareng Citra atau gak Dikta.”

“Iyaaaa Mas Danuu”

“Selamat bobo”

Midnight Talk

“Adek, ayo keluar Mas Nu punya McFlurry”

Mas Danu bisa banget bujuknya, padahal gue pengen ngambek sama dia. Kalau udah bawa-bawa McFlurry gimana bisa nolak. Akhirnya gue bangun dari tempat tidur dan jalan ke arah pintu.

“Mana McFlurrynya?”

“Emang Mas Nu bilang mau kasih ke adek? Mas cuma bilang Mas Nu punya McFlurry”

“Ih! Mas Danuuu!”

“Hahaha, jangan manyun gitu. Udah jelek tambah jelek”

“Tau deh, males Adek”

Gue yang tadinya mau puter balik masuk kamar lagi gak jadi, karna tangan gue di tarik keluar sama mas Danu.

“Heh! itu McFlurrynya ada di freezer. Sana ambil, abis itu ke ruang keluarga, Mas mau ngomong”

“Yey! Makasih Mas Nuuu, oke nanti adek ke sana”

Biasanya kalau mas Danu udah ajak gue ngobrol di ruang keluarga, yang di bahas lumayan serius. Gue jadi penasaran kira-kira mas Danu mau ngomong apa ke gue. Setelah ambil McFlurry di freezer gue langsung samperin mas Danu ke ruang keluarga.

“Kenapa, Mas?”

“Ya, kamu pasti kesel ya sama Mas Nu karna selalu larang kamu pulang malem?”

Tumben mas Danu bahas masalah ini. Biasanya dia gak pernah angkat bicara soal masalah ini, pun dengan gue yang gak pernah nyinggung terang-terangan ke mas Danu.

“Iya, kesel banget. Soalnya Mas Danu kadang marahin temen Adek juga, gak cuma Adek”

“Dek, maaf ya?”

Gue kaget. Bener-bener gak expect kalau Mas Danu bakalan minta maaf soal ini. Iya gue emang kesel sama mas Danu, tapi gue gak marah, gue gak berharap mas Danu minta maaf kayak gini. Justru gue ngerasa gak enak sama Mas Danu kalau dia maaf kayak gini. Kalian pasti tau gimana rasanya saat orang yang kalian sayang minta maaf sama kalian, padahal dia gak salah dan gak buat kalian marah.

“Mas....”

“Maaf ya selama ini Mas Nu sering marah ke Adek kalau Adek pulang malem dan bikin Adek kesel”

“Mas Nu khawatir, Dek kalau jam sembilan Adek belum pulang. Mas takut, Mas Nu gak mau Adek kenapa-kenapa. Mas Nu gak mau kehilangan Adek kayak ayah dan bunda ninggalin kita”

Duh, gue gak bisa banget deh kalau udah begini huhu mata gue berkaca-kaca. McFlurry yang tadi, gue taruh di meja supaya gak ke distract. Maaf ya McFlurry, kali ini kamu tersingkirkan.

“Mungkin Adek nganggep Mas Nu over protektif ke Adek. Tapi Mas rasa, Mas Nu gak segitunya protektif ke Adek kan?”

“Iya, Mas Nu masih bolehin adek pergi-pergi”

“Nah itu, Mas Nu cuma khawatir aja. Mas Nu sayang sama adek, makanya Mas Nu kayak gini. Mas Nu cuma punya Adek,”

Ini sekali ngedip air mata gue udah turun. Mas Danu kenapa bisa—

“Gak deng, Mas juga punya Kala hehe.”

Gak jadi, orangnya bucin.

“Bucin”

“Kasian jomblo”

“Kan Mas Danu gak bolehin Adek pacaran!”

“Hahaha, itu karna mereka juga gak baik buat kamu. Ya pokoknya itu yang Mas mau omongin sama kamu”

“Makasih ya Mas Danu, udah sayang banget sama Adek. Maaf juga Adek kemarin-kemarin gak bisa ngertiin khawatirnya Mas Danu ke Adek. Tapiii, sekarang Adek udah ngerti kenapa Mas Nu kayak gitu”

“Bagus kalau gitu. Udah ah jangan nangis, bobo udah malem”

“Gak tuh adek gak nangis. Nanti, McFlurry nya belum abis tau Mas. Abisin dulu ya”

“Kenapa diambil???”

“Gak, besok aja. Udah malem nanti kamu batuk. Daaah Mas ngantuk mau bobo”

Kakak gak jelas. Tadi ngasih sekarang diambil lagi. Mana langsung kabur.

“Eh, Dek. Besok Mas gak bisa anter kamu kelas siang kan?”

“Iya”

“Ya udah, berangkat bareng Sandi aja gapapa atau bareng Citra.”

Beneran gak jelas. Mas Danu kerasukan deh kayaknya abis ngobrol tadi. Tiba-tiba ngomongin Sandi. Berhenti cuma mau ngomong gitu. Mana ngomongnya sambil naikin alis, geli banget yaa allah.