altuniverseu

“Gue mau ngomong sesuatu”

“Ngomong apa? Ngomong aja”

“i have a crush on you, sorry if you already have a girlfriend. Gue cuma mau ngungkapin aja kok supaya lega, bukan nembak lo.”

“Ah... okay”

“Sorry..”

“Gapapa, makasih ya udah suka sama gue. Actually, I already know you have a crush on me. Gue bangga sama lo karna lo berani ngomong ini ke gue. Tapi maaf, kayaknya lebih baik kita temenan aja, lagian dari dulu kita juga udah temenan kan?”

“Okay, thankyou. I thought our feelings are mutual, ternyata enggak ya hehe. You act like you liked me back tapi ternyata lo emang friendly ya”

“Maaf...”

“No need. Gue aja yang terlalu berharap sama orang kayak lo, padahal i already know the answer.”

“Setelah ini jangan canggung ya, santai aja sama gue, feels like friend aja”

“I'll try, makasih udah luangin waktu buat gue”

“Sama-sama, be happy ya.”

“I am”

He's the one who make me fall, he's the one who make me broke

“Gue mau ngomong sesuatu”

“Ngomong apa? Ngomong aja”

“i have a crush on you, sorry if you already have a girlfriend. Gue cuma mau ngungkapin aja kok supaya lega, bukan nembak lo.”

“Ah... okay”

“Sorry..”

“Gapapa, makasih ya udah suka sama gue. Actually, I already know you have a crush on me. Gue bangga sama lo karna lo berani ngomong ini ke gue. Tapi maaf, kayaknya lebih baik kita temenan aja, lagian dari dulu kita juga udah temenan kan?”

“Okay, thankyou. I thought our feelings are mutual, ternyata enggak ya hehe. You act like you liked me back tapi ternyata lo emang friendly ya”

“Maaf...”

“No need. Gue aja yang terlalu berharap sama orang kayak lo, padahal i already know the answer.”

“Setelah ini jangan canggung ya, santai aja sama gue, feels like friend aja”

“I'll try, makasih udah luangin waktu buat gue”

“Sama-sama, be happy ya.”

“I am”

*He's the one who make me fall, he's the one who make me broke”

“Gue mau ngomong sesuatu”

“Ngomong apa? Ngomong aja”

“i have a crush on you, sorry if you already have a girlfriend. Gue cuma mau ngungkapin aja kok supaya lega, bukan nembak lo.”

“Ah... okay”

“Sorry..”

“Gapapa, makasih ya udah suka sama gue. Actually, I already know you have a crush on me. Gue bangga sama lo karna lo berani ngomong ini ke gue. Tapi maaf, kayaknya lebih baik kita temenan aja, lagian dari dulu kita juga udah temenan kan?”

“Okay, thankyou. I thought our feelings are mutual, ternyata enggak ya hehe. You act like you liked me back tapi ternyata lo emang friendly ya”

“Maaf...”

“No need. Gue aja yang terlalu berharap sama orang kayak lo, padahal i already know the answer.”

“Setelah ini jangan canggung ya, santai aja sama gue, feels like friend aja”

“I'll try, makasih udah luangin waktu buat gue”

“Sama-sama, be happy ya.”

“I am”

Setelah memastikan pesan untuk Kala terkirim, Danu beranjak dari tempatnya untuk mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Ia merebahkan diri ke kasur, menutup mata dengan senyuman, berharap hari esok akan segara datang. – Tepat pukul setengah lima pagi, Danu terbangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat Danu bergegas keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel miliknya, menuju ke lobby hotel untuk check out dan bertemu dengan Dimas.

Mereka berduapun meninggalkan hotel. Karna jarak dari hotel ke stasiun memakan waktu sekitar setengah jam dan khawatir akan ketinggalan kereta, mereka berniat untuk membeli sarapan di stasiun.

Sesuai jadwal keberangkatan, kereta yang mereka tumpangi meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta pukul tujuh pagi. Danu mengabari Kala bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah melewati perjalanan sejauh lima ratus kilo meter, Danu dan Dimas sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah empat sore dengan selamat. Dimas yang sebelumnya sudah di kabari bahwa sang kakak telah sampai, pergi ke pintu keluar lebih dulu. Sedangkan Danu masih mencoba menelpon Kala, seharusnya perempuannya itu sudah sampai sejak sepuluh menit lalu. Namun sampai Danu keluar dari stasiun, panggilannya tidak juga terjawab. Ia mencoba menghubungi sang adik, tapi sebelum menekan tombol panggilan, ponselnya berbunyi, nama sang adik tertera disana.

“Halo, Adek dimana?”

“Halo, selamat pagi, dengan Mas Nu?”

Danu mengerutkan dahi, bingung. Alih-alih suara Berlian, yang ia dengar justru suara perempuan yang sangat asing.

“Ya, saya sendiri. Sebelumnya maaf, kamu siapa? Ini nomor adik saya, tolong kembalikan ponselnya ke adik saya”

“Maaf, Mas kalau saya lancang. Saya melihat kontak yang terakhir kali di hubungi Berliana Cahaya Putri adalah Mas Nu, Saya hanya ingin menginfokan bahwa Berliana Cahaya Putri mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai seorang perempuan bernama Kalandra Anandita. Saat ini Berliana Cahaya Putri sedang dalam pemeriksaan,”

“Kala? Kalandra gimana?”

“Pihak rumah sakit berserta dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin, namun karena benturan kencang di kepala dan terjadi pendarahan di dalamnya, Kalandra Anandita tidak bisa diselamatkan.”

Danu membeku, dunianya seolah berhenti, kejadian ini sangat diluar dugaannya. Ia menggenggam ponselnya erat. Air matanya tak bisa ia bendung. Lagi, ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“Kala..”

Dengan nafas yang tersengal, Danu terbangun dari tidurnya. Ia langsung meraih ponselnya, sekarang masih pukul tiga pagi, kemudian beralih menghubungi Kala. Panggilan pertama Kala tidak menjawab, Danu kembali mencoba menghubungi, setelah nada sambung ke tiga panggilannya terjawab.

“Kala”

Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Kala menjawab, “Danu kenapa telpon jam segini?”

“Kala”

“Iya, Danu kenapaa?”

“Nanti kamu gak usah jemput aku ya”

“Kok gituu? Kemaren kamu udah ngebolehin loh, kenapa tiba-tiba gak boleh?”

“Gapapa, gak usah ya, Kala. Aku bisa sendiri”

“Enggak, aku tetep mau jemput kamu”

“La... Gak usah ya, Sayang?”

“Kenapa sih, Nu? Aku gak suka deh kamu kayak gini. Masih terlalu pagi, Nu buat adu argumen”

“Kalandra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Takut, La..”

Kala mendengar suara Danu yang bergetar merasa khawatir, “Danu, maaf tadi aku kasar.. Kamu abis mimpi buruk ya? Jadinya kebangun.”

“Iya, aku takut, La. Aku takut kamu dan adek kenapa-kenapa..”

“Danu, aku gak akan kenapa-kenapa, boleh ya?”

Dany menghela nafas, “Ya udah boleh, tapi naik taksi ya? Jangan bawa mobil sendiri”

“Iya nanti aku naik taksi. Sekarang tidur lagi aja ya, Danu. Masih pagi banget”

“Iya, maaf ya aku bangunin kamu. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

“Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya. Udah ya? Aku masih ngantuk, Nu.”

Danu mencengkram ponselnya kuat, “Jangan di matiin”

“Kenapa, Danu?”

“Besok aku masih bisa denger suara kamu kan?”

“Nu, jangan gitu aku sedih jadinya”

Danu tidak lagi bisa menahan air mata nya, ia benar-benar menangis. Kembali mengingat mimpinya, “Mimpi aku berasa nyata banget, Kala. Sakit rasanya.”

“Danu itu cuma mimpi. Gak akan terjadi. Jangan nangis, Danu”

“Sayang..”

“Iya, Danu?”

“Kalandra”

“Iyaa”

“Kala”

“Kenapa, Sayang?”

“Nanti pas ketemu aku boleh peluk kamu gak?”

“Boleh, boleh banget. Nanti pas ketemu, langsung aku peluk. Udah ya, Danu jangan nangis. Aku sedih denger kamu nangis.”

“Makasih ya, Sayang. Tolong jaga diri kamu dan Yaya. Aku sayang banget sama kalian.”

“Iya, Nu aku juga sayang kamu banget bangeet. Sekarang bobo yaa, gak usah di pikirin. Insyaallah aku dan Yaya besok bakalan baik-baik aja.”

“Iya, La.”

“Aku tutup yaa, sleep well, Danu. Besok aku terus kabarin kamu.”

“Iya, kamu juga tidur yang nyenyak ya, see you.”

Sambunganpun terputus. Danu kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan badannya. Pikiran dan hatinya sudah cukup tenang setelah menghubungi Kala. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa besok Kala tidak mengendarai mobil pribadinya dan memilih menaiki taksi.

Esok harinya saat Danu sampai di stasiun Pasar Senen ia langsung menuju ke pintu keluar, sebelumnya Kala sudah mengabari bahwa ia dan Yaya telah sampi. Senyum Danu mengembang, rasa takut akan mimpinya hilang begitu saja ketika melihat dua perempuan yang sangat ia sayangi telah menunggunya di pintu keluar. Danu mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Kala, menenggelamkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku sama Yaya gak kenapa-kenapa, Danu”.

Danu mengangguk, “iya, makasih ya udah dengerin aku.”

Danu melepaskan pelukannya dari Kala, beralih untuk memeluk sang adik. Ketiganya kemuadian beranjak pergi meninggalkan stasiun.

Setelah memastikan pesan untuk Kala terkirim, Danu beranjak dari tempatnya untuk mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Ia merebahkan diri ke kasur, menutup mata dengan senyuman, berharap hari esok akan segara datang. – Tepat pukul setengah lima pagi, Danu terbangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat Danu bergegas keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel miliknya, menuju ke lobby hotel untuk check out dan bertemu dengan Dimas.

Mereka berduapun meninggalkan hotel. Karna jarak dari hotel ke stasiun memakan waktu sekitar setengah jam dan khawatir akan ketinggalan kereta, mereka berniat untuk membeli sarapan di stasiun.

Sesuai jadwal keberangkatan, kereta yang mereka tumpangi meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta pukul tujuh pagi. Danu mengabari Kala bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah melewati perjalanan sejauh lima ratus kilo meter, Danu dan Dimas sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah empat sore dengan selamat. Dimas yang sebelumnya sudah di kabari bahwa sang kakak telah sampai, pergi ke pintu keluar lebih dulu. Sedangkan Danu masih mencoba menelpon Kala, seharusnya perempuannya itu sudah sampai sejak sepuluh menit lalu. Namun sampai Danu keluar dari stasiun, panggilannya tidak juga terjawab. Ia mencoba menghubungi sang adik, tapi sebelum menekan tombol panggilan, ponselnya berbunyi, nama sang adik tertera disana.

“Halo, Adek dimana?”

“Halo, selamat pagi, dengan Mas Nu?”

Danu mengerutkan dahi, bingung. Alih-alih suara Berlian, yang ia dengar justru suara perempuan yang sangat asing.

“Ya, saya sendiri. Sebelumnya maaf, kamu siapa? Ini nomor adik saya, tolong kembalikan ponselnya ke adik saya”

“Maaf, Mas kalau saya lancang. Saya melihat kontak yang terakhir kali di hubungi Berliana Cahaya Putri adalah Mas Nu, Saya hanya ingin menginfokan bahwa Berliana Cahaya Putri mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai seorang perempuan bernama Kalandra Anandita. Saat ini Berliana Cahaya Putri sedang dalam pemeriksaan,”

“Kala? Kalandra gimana?”

“Pihak rumah sakit berserta dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin, namun karena benturan kencang di kepala dan terjadi pendarahan di dalamnya, Kalandra Anandita tidak bisa diselamatkan.”

Danu membeku, dunianya seolah berhenti, kejadian ini sangat diluar dugaannya. Ia menggenggam ponselnya erat. Air matanya tak bisa ia bendung. Lagi, ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“Kala..”

Dengan nafas yang tersengal, Danu terbangun dari tidurnya. Ia langsung meraih ponselnya, sekarang masih pukul tiga pagi, kemudian beralih menghubungi Kala. Panggilan pertama Kala tidak menjawab, Danu kembali mencoba menghubungi, setelah nada sambung ke tiga panggilannya terjawab.

“Kala”

Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Kala menjawab, “Danu kenapa telpon jam segini?”

“Kala”

“Iya, Danu kenapaa?”

“Nanti kamu gak usah jemput aku ya”

“Kok gituu? Kemaren kamu udah ngebolehin loh, kenapa tiba-tiba gak boleh?”

“Gapapa, gak usah ya, Kala. Aku bisa sendiri”

“Enggak, aku tetep mau jemput kamu”

“La... Gak usah ya, Sayang?”

“Kenapa sih, Nu? Aku gak suka deh kamu kayak gini. Masih terlalu pagi, Nu buat adu argumen”

“Kalandra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Takut, La..”

Kala mendengar suara Danu yang bergetar merasa khawatir, “Danu, maaf tadi aku kasar.. Kamu abis mimpi buruk ya? Jadinya kebangun.”

“Iya, aku takut, La. Aku takut kamu dan adek kenapa-kenapa..”

*“Danu, aku gak akan kenapa-kenapa, boleh ya?””

Dany menghela nafas, “Ya udah boleh, tapi naik taksi ya? Jangan bawa mobil sendiri”

“Iya nanti aku naik taksi. Sekarang tidur lagi aja ya, Danu. Masih pagi banget”

“Iya, maaf ya aku bangunin kamu. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

“Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya. Udah ya? Aku masih ngantuk, Nu.”

“Jangan di matiin”

“Kenapa, Danu?”

“Besok aku masih bisa denger suara kamu kan?”

“Nu, jangan gitu aku sedih jadinya”

Danu tidak lagi bisa menahan air mata nya, ia benar-benar menangis. Kembali mengingat mimpinya, “Mimpi aku berasa nyata banget, Kala. Sakit rasanya.”

“Danu itu cuma mimpi. Gak akan terjadi. Jangan nangis, Danu”

“Sayang..”

“Iya, Danu?”

“Kalandra”

“Iyaa”

“Kala”

“Kenapa, Sayang?”

“Nanti pas ketemu aku boleh peluk kamu gak?”

“Boleh, boleh banget. Nanti pas ketemu, langsung aku peluk. Udah ya, Danu jangan nangis. Aku sedih denger kamu nangis.”

“Makasih ya, Sayang. Tolong jaga diri kamu dan Yaya. Aku sayang banget sama kalian.”

“Iya, Nu aku juga sayang kamu banget bangeet. Sekarang bobo yaa, gak usah di pikirin. Insyaallah aku dan Yaya besok bakalan baik-baik aja.”

“Iya, La.”

“Aku tutup yaa, sleep well, Danu. Besok aku terus kabarin kamu.”

“Iya, kamu juga tidur yang nyenyak ya, see you.”

Sambunganpun terputus. Danu kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan badannya. Pikiran dan hatinya sudah cukup tenang setelah menghubungi Kala. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa besok Kala tidak mengendarai mobil pribadinya dan memilih menaiki taksi.

Esok harinya saat Danu sampai di stasiun Pasar Senen ia langsung menuju ke pintu keluar, sebelumnya Kala sudah mengabari bahwa ia dan Yaya telah sampi. Senyum Danu mengembang, rasa takut akan mimpinya hilang begitu saja ketika melihat dua perempuan yang sangat ia sayangi telah menunggunya di pintu keluar. Danu mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Kala, menenggelamkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku sama Yaya gak kenapa-kenapa, Danu”.

Danu mengangguk, “iya, makasih ya udah dengerin aku.”

Danu melepaskan pelukannya dari Kala, beralih untuk memeluk sang adik. Ketiganya kemuadian beranjak pergi meninggalkan stasiun.

Setelah memastikan pesan untuk Kala terkirim, Danu beranjak dari tempatnya untuk mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Ia merebahkan diri ke kasur, menutup mata dengan senyuman, berharap hari esok akan segara datang. – Tepat pukul setengah lima pagi, Danu terbangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat Danu bergegas keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel miliknya, menuju ke lobby hotel untuk check out dan bertemu dengan Dimas.

Mereka berduapun meninggalkan hotel. Karna jarak dari hotel ke stasiun memakan waktu sekitar setengah jam dan khawatir akan ketinggalan kereta, mereka berniat untuk membeli sarapan di stasiun.

Sesuai jadwal keberangkatan, kereta yang mereka tumpangi meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta pukul tujuh pagi. Danu mengabari Kala bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah melewati perjalanan sejauh lima ratus kilo meter, Danu dan Dimas sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah empat sore dengan selamat. Dimas yang sebelumnya sudah di kabari bahwa sang kakak telah sampai, pergi ke pintu keluar lebih dulu. Sedangkan Danu masih mencoba menelpon Kala, seharusnya perempuannya itu sudah sampai sejak sepuluh menit lalu. Namun sampai Danu keluar dari stasiun, panggilannya tidak juga terjawab. Ia mencoba menghubungi sang adik, tapi sebelum menekan tombol panggilan, ponselnya berbunyi, nama sang adik tertera disana.

“Halo, Adek dimana?”

“Halo, selamat pagi, dengan Mas Nu?”

Danu mengerutkan dahi, bingung. Alih-alih suara Berlian, yang ia dengar justru suara perempuan yang sangat asing.

“Ya, saya sendiri. Sebelumnya maaf, kamu siapa? Ini nomor adik saya, tolong kembalikan ponselnya ke adik saya”

“Maaf, Mas kalau saya lancang. Saya melihat kontak yang terakhir kali di hubungi Berliana Cahaya Putri adalah Mas Nu, Saya hanya ingin menginfokan bahwa Berliana Cahaya Putri mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai seorang perempuan bernama Kalandra Anandita. Saat ini Berliana Cahaya Putri sedang dalam pemeriksaan,”

“Kala? Kalandra gimana?”

“Pihak rumah sakit berserta dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin, namun karena benturan kencang di kepala dan terjadi pendarahan di dalamnya, Kalandra Anandita tidak bisa diselamatkan.”

Danu membeku, dunianya seolah berhenti, kejadian ini sangat diluar dugaannya. Ia menggenggam ponselnya erat. Air matanya tak bisa ia bendung. Lagi, ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“Kala..”

Dengan nafas yang tersengal, Danu terbangun dari tidurnya. Ia langsung meraih ponselnya, sekarang masih pukul tiga pagi, kemudian beralih menghubungi Kala. Panggilan pertama Kala tidak menjawab, Danu kembali mencoba menghubungi, setelah nada sambung ke tiga panggilannya terjawab.

“Kala”

Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Kala menjawab, “Danu kenapa telpon jam segini?”

“Kala”

“Iya, Danu kenapaa?”

“Nanti kamu gak usah jemput aku ya”

“Kok gituu? Kemaren kamu udah ngebolehin loh, kenapa tiba-tiba gak boleh?”

“Gapapa, gak usah ya, Kala. Aku bisa sendiri”

“Enggak, aku tetep mau jemput kamu”

“La... Gak usah ya, Sayang?”

*“Kenapa sih, Nu? Aku gak suka deh kamu kayak gini. Masih terlalu pagi, Nu buat adu argumen” *

“Kalandra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Takut, La..”

Kala mendengar suara Danu yang bergetar merasa khawatir, “Danu, maaf tadi aku kasar.. Kamu abis mimpi buruk ya? Jadinya kebangun.”

“Iya, aku takut, La. Aku takut kamu dan adek kenapa-kenapa..”

“Danu, aku gak akan kenapa-kenapa, boleh ya?”

Dany menghela nafas, “Ya udah boleh, tapi naik taksi ya? Jangan bawa mobil sendiri”

“Iya nanti aku naik taksi. Sekarang tidur lagi aja ya, Danu. Masih pagi banget”

“Iya, maaf ya aku bangunin kamu. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

“Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya. Udah ya? Aku masih ngantuk, Nu.”

“Jangan di matiin”

“Kenapa, Danu?”

“Besok aku masih bisa denger suara kamu kan?”

“Nu, jangan gitu aku sedih jadinya”

Danu tidak lagi bisa menahan air mata nya, ia benar-benar menangis. Kembali mengingat mimpinya, “Mimpi aku berasa nyata banget, Kala. Sakit rasanya.”

“Danu itu cuma mimpi. Gak akan terjadi. Jangan nangis, Danu”

“Sayang..”

“Iya, Danu?”

“Kalandra”

“Iyaa”

“Kala”

“Kenapa, Sayang?”

“Nanti pas ketemu aku boleh peluk kamu gak?”

“Boleh, boleh banget. Nanti pas ketemu, langsung aku peluk. Udah ya, Danu jangan nangis. Aku sedih denger kamu nangis.”

“Makasih ya, Sayang. Tolong jaga diri kamu dan Yaya. Aku sayang banget sama kalian.”

“Iya, Nu aku juga sayang kamu banget bangeet. Sekarang bobo yaa, gak usah di pikirin. Insyaallah aku dan Yaya besok bakalan baik-baik aja.”

“Iya, La.”

“Aku tutup yaa, sleep well, Danu. Besok aku terus kabarin kamu.”

“Iya, kamu juga tidur yang nyenyak ya, see you.”

Sambunganpun terputus. Danu kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan badannya. Pikiran dan hatinya sudah cukup tenang setelah menghubungi Kala. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa besok Kala tidak mengendarai mobil pribadinya dan memilih menaiki taksi.

Esok harinya saat Danu sampai di stasiun Pasar Senen ia langsung menuju ke pintu keluar, sebelumnya Kala sudah mengabari bahwa ia dan Yaya telah sampi. Senyum Danu mengembang, rasa takut akan mimpinya hilang begitu saja ketika melihat dua perempuan yang sangat ia sayangi telah menunggunya di pintu keluar. Danu mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Kala, menenggelamkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku sama Yaya gak kenapa-kenapa, Danu”.

Danu mengangguk, “iya, makasih ya udah dengerin aku.”

Danu melepaskan pelukannya dari Kala, beralih untuk memeluk sang adik. Ketiganya kemuadian beranjak pergi meninggalkan stasiun.

Setelah memastikan pesan untuk Kala terkirim, Danu beranjak dari tempatnya untuk mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Ia merebahkan diri ke kasur, menutup mata dengan senyuman, berharap hari esok akan segara datang. – Tepat pukul setengah lima pagi, Danu terbangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat Danu bergegas keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel miliknya, menuju ke lobby hotel untuk check out dan bertemu dengan Dimas.

Mereka berduapun meninggalkan hotel. Karna jarak dari hotel ke stasiun memakan waktu sekitar setengah jam dan khawatir akan ketinggalan kereta, mereka berniat untuk membeli sarapan di stasiun.

Sesuai jadwal keberangkatan, kereta yang mereka tumpangi meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta pukul tujuh pagi. Danu mengabari Kala bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah melewati perjalanan sejauh lima ratus kilo meter, Danu dan Dimas sampai di stasiun Pasar Senen pukul setengah empat sore dengan selamat. Dimas yang sebelumnya sudah di kabari bahwa sang kakak telah sampai, pergi ke pintu keluar lebih dulu. Sedangkan Danu masih mencoba menelpon Kala, seharusnya perempuannya itu sudah sampai sejak sepuluh menit lalu. Namun sampai Danu keluar dari stasiun, panggilannya tidak juga terjawab. Ia mencoba menghubungi sang adik, tapi sebelum menekan tombol panggilan, ponselnya berbunyi, nama sang adik tertera disana.

“Halo, Adek dimana?”

“Halo, selamat pagi, dengan Mas Nu?”

Danu mengerutkan dahi, bingung. Alih-alih suara Berlian, yang ia dengar justru suara perempuan yang sangat asing.

“Ya, saya sendiri. Sebelumnya maaf, kamu siapa? Ini nomor adik saya, tolong kembalikan ponselnya ke adik saya”

“Maaf, Mas kalau saya lancang. Saya melihat kontak yang terakhir kali di hubungi Berliana Cahaya Putri adalah Mas Nu, Saya hanya ingin menginfokan bahwa Berliana Cahaya Putri mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai seorang perempuan bernama Kalandra Anandita. Saat ini Berliana Cahaya Putri sedang dalam pemeriksaan,”

“Kala? Kalandra gimana?”

“Pihak rumah sakit berserta dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin, namun karena benturan kencang di kepala dan terjadi pendarahan di dalamnya, Kalandra Anandita tidak bisa diselamatkan.”

Danu membeku, dunianya seolah berhenti, kejadian ini sangat diluar dugaannya. Ia menggenggam ponselnya erat. Air matanya tak bisa ia bendung. Lagi, ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“Kala..”

Dengan nafas yang tersengal, Danu terbangun dari tidurnya. Ia langsung meraih ponselnya, sekarang masih pukul tiga pagi, kemudian beralih menghubungi Kala. Panggilan pertama Kala tidak menjawab, Danu kembali mencoba menghubungi, setelah nada sambung ke tiga panggilannya terjawab.

“Kala”

Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Kala menjawab, “Danu kenapa telpon jam segini?”

“Kala”

“Iya, Danu kenapaa?”

“Nanti kamu gak usah jemput aku ya”

“Kok gituu? Kemaren kamu udah ngebolehin loh, kenapa tiba-tiba gak boleh?”

“Gapapa, gak usah ya, Kala. Aku bisa sendiri”

“Enggak, aku tetep mau jemput kamu”

“La... Gak usah ya, Sayang?”

*“Kenapa sih, Nu? Aku gak suka deh kamu kayak gini. Masih terlalu pagi, Nu buat adu argumen” *

“Kalandra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Takut, La..”

Kala mendengar suara Danu yang bergetar merasa khawatir, “Danu, maaf tadi aku kasar.. Kamu abis mimpi buruk ya? Jadinya kebangun.”

“Iya, aku takut, La. Aku takut kamu dan adek kenapa-kenapa..”

“Danu, aku gak akan kenapa-kenapa, boleh ya?”

Dany menghela nafas, “Ya udah boleh, tapi naik taksi ya? Jangan bawa mobil sendiri”

“Iya nanti aku naik taksi. Sekarang tidur lagi aja ya, Danu. Masih pagi banget”

“Iya, maaf ya aku bangunin kamu. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

“Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya. Udah ya? Aku masih ngantuk, Nu.”

“Jangan di matiin”

“Kenapa, Danu?”

“Besok aku masih bisa denger suara kamu kan?”

“Nu, jangan gitu aku sedih jadinya”

Danu tidak lagi bisa menahan air mata nya, ia benar-benar menangis. Kembali mengingat mimpinya, “Mimpi aku berasa nyata banget, Kala. Sakit rasanya.”

“Danu itu cuma mimpi. Gak akan terjadi. Jangan nangis, Danu”

“Sayang..”

“Iya, Danu?”

“Kalandra”

“Iyaa”

“Kala”

“Kenapa, Sayang?”

“Nanti pas ketemu aku boleh peluk kamu gak?”

“Boleh, boleh banget. Nanti pas ketemu, langsung aku peluk. Udah ya, Danu jangan nangis. Aku sedih denger kamu nangis.”

“Makasih ya, Sayang. Tolong jaga diri kamu dan Yaya. Aku sayang banget sama kalian.”

“Iya, Nu aku juga sayang kamu banget bangeet. Sekarang bobo yaa, gak usah di pikirin. Insyaallah aku dan Yaya besok bakalan baik-baik aja.”

“Iya, La.”

“Aku tutup yaa, sleep well, Danu. Besok aku terus kabarin kamu.”

“Iya, kamu juga tidur yang nyenyak ya, see you.”

Sambunganpun terputus. Danu kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan badannya. Pikiran dan hatinya sudah cukup tenang setelah menghubungi Kala. Setidaknya ia sudah memastikan bahwa besok Kala tidak mengendarai mobil pribadinya dan memilih menaiki taksi.

Esok harinya saat Danu sampai di stasiun Pasar Senen ia langsung menuju ke pintu keluar, sebelumnya Kala sudah mengabari bahwa ia dan Yaya telah sampi. Senyum Danu mengembang, rasa takut akan mimpinya hilang begitu saja ketika melihat dua perempuan yang sangat ia sayangi telah menunggunya di pintu keluar. Danu mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Kala, menenggelamkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku sama Yaya gak kenapa-kenapa, Danu”

Danu mengangguk, “iya, makasih ya udah dengerin aku.”

Danu melepaskan pelukannya dari Kala, beralih untuk memeluk sang adik. Ketiganya kemuadian beranjak pergi meninggalkan stasiun.

Selesai mengerjakan semua pekerjaan dan sudah memasuki jam pulang kerja, Danu bergegas merapihkan barang-barangnya kemudian berpamitan dengan tim kerjanya.

“Semuanya saya duluan ya”

Seisi ruangan serentak menjawab, “Iya, Pak!”

“Eh, Nu, buru-buru banget kayaknya kenapa dah?” Tanya Dimas, salah satu teman dekat Danu di kantor.

“Cewe gue sakit, udah janji mau ke rumahnya”

“Oh, ya udah hati-hati. Cepet sembuh ya cewek lo”

“Yo, thanks. Gue berangkat”

Danupun buru-buru jalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Karna sore ini termasuk jam pulang kantor, jalanan padat akan kendaraan. Tapi setidaknya masih bisa bergerak, tidak padat merayap. Di perjalanan Danu mampir sebentar untuk membeli jus jambu dan bubur ayam untuk Kala dan sate padang untuk mama Kala. Akhirnya Danu sampai di kediaman Kala tepat pukul setengah lima sore.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, sebentar.”

Pintu rumah terbuka dan menampilkan mama Kala dengan pakaian khas rumahannya dan senyum yang terpatri di wajahnya.

“Eh Danuu, masuk-masuk”

“Iya, Ma. Ini Danu beli sate padang buat Mama”

“Ya Allah, Danu, repot-repot deh, makasih yaa”

“Sama-sama, Ma. Kala?”

“Oh iya, langsung ke kamarnya aja. Bentar ya, Danu, kamu mama bikinin teh anget. Capek pasti pulang kerja”

“Eh, Ma, gak usah. Danu sebentar aja kok”

“Aduh, Danu. Mama gak yakin kamu disini cuma sebentar, Kala pasti gak bolehin kamu pulang cepet-cepet. Udah sana naik, Mama ke dapur dulu,” di tepuknya bahu Danu dengan senyuman jahil yang terpatri. Kemudian sang mama pergi ke dapur.

“Makasih, Ma”

Danu beranjak pergi, sesampainya di kamar Kala ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendengar sautan dari sang empunya kamar, Danupun membuka pintu kemudian masuk dan membiarkan pintunya terbuka.

“Danu..”

“Hai,” Danu menaruh jus dan bubur ayam yang ia beli di atas nakas lalu duduk di pinggir ranjang.

“Pusing gak?”

“Pusing”

Tangan kanan Danu bergerak mengelus kepala Kala.

“Udah minum obat?”

“Belum, aku belum makan”

Danu menyiapkan bubur ayam yang tadi ia beli untuk di makan Kala. Kemudian membantu Kala duduk di kasurnya.

“Makan dulu ya aku suapin”

“Kamu kenapa beli bubur ayam? aku mau ayam geprek”

“Kamu lagi sakit, gak usah macem-macem. Nanti kalau udah sembuh baru aku beliin ayam geprek”

“Bener yaa?”

“Iya, Sayangg. Buka mulutnya, aaaa”

Mama Kala datang dengan membawa air teh hangat untuk Danu dan botol minum berisi air putih untuk Kala.

“Aduh, manja banget,” ucap mama Kala dengan kekehan.

“Ini Danu tehnya Mama taruh sini ya. Abis makan jangan lupa minum obat ya, Kala. Minumnya udah Mama bawain nih”

“Iya, Mama”

“Makasih, Ma, tehnya”

“Mama ke bawah lagi ya, Kala jangan macem-macam kamu”

“Ya Allah iya, Ma”

Danu yang mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya bisa tertawa pelan. Setelahnya mama Kala pergi keluar kamar.

“Kamu udah ke dokter?”

“Udah tadi siang. Aku kan emang dari dua hari lalu gak enak badan,”

Sesekali ucapan Kala terhenti karna menerima suapan bubur dari Danu.

“Terus kemaren diajak Ivy jajan pinggir jalan, ternyata bahan makanannya ada yang gak cocok sama aku jadinya kata dokter, aku keracunan terus kalau minggu depan belum sembuh harus di rawat,”

“Ivy juga abis makan itu katanya buang-buang air tapi gak sampe drop kayak aku sih untungnya”

“Lain kali hati-hati ya kalau jajan”

“Iyaa. Nu, udah makannya perut aku mulai gak enak”

“Satu kali lagi”

“Enggak”

“Ya udah, air putihnya minum nanti minum obat”

“Obatnya di laci nakas”

Danu memberikan botol minum kepada Kala kemudian merapihkan bubur ayam yang masih tersisa banyak. Ia mengambil obat Kala yang ada di laci nakas.

Setelah menyiapkan obat untuk Kala minum nanti, tangan Danu bergerak merapihkan rambut Kala yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga.

Merasakan perutnya yang mual, Kala buru-buru bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Danu mengikuti Kala ke kamar mandi, khawatir perempuannya itu terjatuh karna badannya terlihat lemas. Danu juga membantu memegangi rambut Kala agar tidak kotor, sesekali ia juga memijat tengkuk Kala agar Kala bisa mengeluarkan semua isi perutnya.

“Udah?”

Kala mengangguk. Tanpa rasa jijik Danu mengusap wajah Kala menggunakan air dengan lembut. “Kamu balik lagi sana ke dalem, ini biar aku yang bersihin”

“Aku aja”

“Jangan paksain, kamu lemes gitu. Dah sana masuk, obatnya di minum”

Kala kembali ke dalam kamar kemudian meminum obatnya. Karna kepalanya yang pusing dan juga rasa kantuk yang melanda akibat efek samping obat, ia merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian Danu datang dengan lengan kemeja yang di gulung dan satu kancing atas yang terbuka.

Danu menghampiri Kala kemudian kembali duduk di pinggir ranjang, tangannya kembali mengelus kepala Kala, “obatnya udah di minum?”

“Udah. Danu jusnya buat nanti malem aja deh, maaf ya”

“Gapapaa, sekarang kamu istirahat aja yaa. Aku pulang dulu”

“Enggak! Jangan pulang, nanti aja”

“Sebentar lagi maghrib, Sayang”

“Ya makanya, maghriban disini dulu aja”

“Ya udah aku tetep disini tapi kamu tidur yaa”

Kala mengangguk, memposisikan badannya agar menghadap Danu, melingkarkan tangannya di perut Danu. Tangan kanan Danu setia mengelus kepala Kala agar perempuannya itu cepat tertidur.

Tepat adzan Maghrib berkumandang, nafas Kala sudah mulai teratur. Setelah memastikan Kala benar-benar tertidur, Danu mengambil guling yang berada di sisi kanan kasur, kemudian dengan gerakan yang sangat pelan memindahkan tangan Kala yang melingkar di perutnya ke guling yang tadi ia ambil.

Di pandangnya wajah pucat Kala lamat-lamat. Danu selalu merasa tidak tega jika harus melihat Kala jatuh sakit seperti saat ini. Ia tidak suka melihat orang yang ia sayangi merasakan sakit. Jika Danu bisa memindahkan rasa sakit yang Kala rasa kepada dirinya, ia akan memindahkannya. Katakan Danu sebagai budak cinta, – yang biasa orang-orang sebut dengan bucin- tapi memang begitu adanya. 5 tahun menjalin hubungan dengan Kala, Danu tidak pernah merasakan bosan. Justru setiap tahun atau bahkan setiap harinya, rasa sayang Danu terhadap Kala selalu bertambah dan tidak pernah pudar. Danu sangat menyayangi Kala, karna saat ini yang ia punya hanya Kala dan sang adik, Berlian. Danu tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Kala, habis sholat aku langsung pulang ya. Kamu cepet sembuh, aku sedih liat kamu sakit. Aku sayang kamu,” di kecupnya kening Kala ringan. Danu bangkit dari duduknya, bertepatan dengan mama Kala yang masuk ke dalam kamar Kala.

“Danu, Kala nya tidur?”

“Eh, iya, Ma. Baru aja pules”

“Bener 'kan apa kata Mama, Kala gak biarin kamu cepet-cepet pulang”

Danu yang mendengar gurauan mama Kala hanya terkekeh pelan.

“Kamu Sholat dulu aja disini, Danu”

“Iya, Ma, Danu emang niatnya mau numpang sholat disini”

“Nah kebetulan ada papanya Kala baru pulang, beliau minta kamu jadi imam”

Danu diam sejenak untuk berpikir. Ia juga sudah lama tidak menjadi imam saat sholat semenjak kepergian kedua orang tuanya. Akhirnya Danu menyetujui permintaan papa Kala.

“Gimana, Danu? Mau ya?”

“Iya Danu mau kok, Ma”

“Alhamdulillah, yuk turun. Papanya Kala lagi wudhu nanti abis itu kamu, gantian”

Danu dan mama Kala keluar dari kamar Kala kemudian beralih ke ruangan yang memang di sediakan untuk melakukan ibadah apa bila ada tamu datang dan ingin menumpang sholat.

Danu selalu bersyukur, ia bisa kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga dari orang tua sang kekasih. Kedua orang tua Kala selalu menganggap Danu seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga percaya bahwa Danu adalah lelaki yang bisa menjaga Kala dan mereka juga percaya Danu tidak akan berbuat macam-macam terhadap anak gadis semata wayangnya.

Selesai melaksankan ibadah sholat maghrib, Danu berpamitan kepada orang tua Kala untuk kembali ke rumah khawatir sang adik sudah menunggu. Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil milik Danu keluar dari pekarangan rumah Kala.

#When Kala Sick#

Selesai mengerjakan semua pekerjaan dan sudah memasuki jam pulang kerja, Danu bergegas merapihkan barang-barangnya kemudian berpamitan dengan tim kerjanya.

“Semuanya saya duluan ya”

Seisi ruangan serentak menjawab, “Iya, Pak!”

“Eh, Nu, buru-buru banget kayaknya kenapa dah?” Tanya Dimas, salah satu teman dekat Danu di kantor.

“Cewe gue sakit, udah janji mau ke rumahnya”

“Oh, ya udah hati-hati. Cepet sembuh ya cewek lo”

“Yo, thanks. Gue berangkat”

Danupun buru-buru jalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Karna sore ini termasuk jam pulang kantor, jalanan padat akan kendaraan. Tapi setidaknya masih bisa bergerak, tidak padat merayap. Di perjalanan Danu mampir sebentar untuk membeli jus jambu dan bubur ayam untuk Kala dan sate padang untuk mama Kala. Akhirnya Danu sampai di kediaman Kala tepat pukul setengah lima sore.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, sebentar.”

Pintu rumah terbuka dan menampilkan mama Kala dengan pakaian khas rumahannya dan senyum yang terpatri di wajahnya.

“Eh Danuu, masuk-masuk”

“Iya, Ma. Ini Danu beli sate padang buat Mama”

“Ya Allah, Danu, repot-repot deh, makasih yaa”

“Sama-sama, Ma. Kala?”

“Oh iya, langsung ke kamarnya aja. Bentar ya, Danu, kamu mama bikinin teh anget. Capek pasti pulang kerja”

“Eh, Ma, gak usah. Danu sebentar aja kok”

“Aduh, Danu. Mama gak yakin kamu disini cuma sebentar, Kala pasti gak bolehin kamu pulang cepet-cepet. Udah sana naik, Mama ke dapur dulu,” di tepuknya bahu Danu dengan senyuman jahil yang terpatri. Kemudian sang mama pergi ke dapur.

“Makasih, Ma”

Danu beranjak pergi, sesampainya di kamar Kala ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendengar sautan dari sang empunya kamar, Danupun membuka pintu kemudian masuk dan membiarkan pintunya terbuka.

“Danu..”

“Hai,” Danu menaruh jus dan bubur ayam yang ia beli di atas nakas lalu duduk di pinggir ranjang.

“Pusing gak?”

“Pusing”

Tangan kanan Danu bergerak mengelus kepala Kala.

“Udah minum obat?”

“Belum, aku belum makan”

Danu menyiapkan bubur ayam yang tadi ia beli untuk di makan Kala. Kemudian membantu Kala duduk di kasurnya.

“Makan dulu ya aku suapin”

“Kamu kenapa beli bubur ayam? aku mau ayam geprek”

“Kamu lagi sakit, gak usah macem-macem. Nanti kalau udah sembuh baru aku beliin ayam geprek”

“Bener yaa?”

“Iya, Sayangg. Buka mulutnya, aaaa”

Mama Kala datang dengan membawa air teh hangat untuk Danu dan botol minum berisi air putih untuk Kala.

“Aduh, manja banget,” ucap mama Kala dengan kekehan.

“Ini Danu tehnya Mama taruh sini ya. Abis makan jangan lupa minum obat ya, Kala. Minumnya udah Mama bawain nih”

“Iya, Mama”

“Makasih, Ma, tehnya”

“Mama ke bawah lagi ya, Kala jangan macem-macam kamu”

“Ya Allah iya, Ma”

Danu yang mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya bisa tertawa pelan. Setelahnya mama Kala pergi keluar kamar.

“Kamu udah ke dokter?”

“Udah tadi siang. Aku kan emang dari dua hari lalu gak enak badan,”

Sesekali ucapan Kala terhenti karna menerima suapan bubur dari Danu.

“Terus kemaren diajak Ivy jajan pinggir jalan, ternyata bahan makanannya ada yang gak cocok sama aku jadinya kata dokter, aku keracunan terus kalau minggu depan belum sembuh harus di rawat,”

“Ivy juga abis makan itu katanya buang-buang air tapi gak sampe drop kayak aku sih untungnya”

“Lain kali hati-hati ya kalau jajan”

“Iyaa. Nu, udah makannya perut aku mulai gak enak”

“Satu kali lagi”

“Enggak”

“Ya udah, air putihnya minum nanti minum obat”

“Obatnya di laci nakas”

Danu memberikan botol minum kepada Kala kemudian merapihkan bubur ayam yang masih tersisa banyak. Ia mengambil obat Kala yang ada di laci nakas.

Setelah menyiapkan obat untuk Kala minum nanti, tangan Danu bergerak merapihkan rambut Kala yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga.

Merasakan perutnya yang mual, Kala buru-buru bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Danu mengikuti Kala ke kamar mandi, khawatir perempuannya itu terjatuh karna badannya terlihat lemas. Danu juga membantu memegangi rambut Kala agar tidak kotor, sesekali ia juga memijat tengkuk Kala agar Kala bisa mengeluarkan semua isi perutnya.

“Udah?”

Kala mengangguk. Tanpa rasa jijik Danu mengusap wajah Kala menggunakan air dengan lembut. “Kamu balik lagi sana ke dalem, ini biar aku yang bersihin”

“Aku aja”

“Jangan paksain, kamu lemes gitu. Dah sana masuk, obatnya di minum”

Kala kembali ke dalam kamar kemudian meminum obatnya. Karna kepalanya yang pusing dan juga rasa kantuk yang melanda akibat efek samping obat, ia merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian Danu datang dengan lengan kemeja yang di gulung dan satu kancing atas yang terbuka.

Danu menghampiri Kala kemudian kembali duduk di pinggir ranjang, tangannya kembali mengelus kepala Kala, “obatnya udah di minum?”

“Udah. Danu jusnya buat nanti malem aja deh, maaf ya”

“Gapapaa, sekarang kamu istirahat aja yaa. Aku pulang dulu”

“Enggak! Jangan pulang, nanti aja”

“Sebentar lagi maghrib, Sayang”

“Ya makanya, maghriban disini dulu aja”

“Ya udah aku tetep disini tapi kamu tidur yaa”

Kala mengangguk, memposisikan badannya agar menghadap Danu, melingkarkan tangannya di perut Danu. Tangan kanan Danu setia mengelus kepala Kala agar perempuannya itu cepat tertidur.

Tepat adzan Maghrib berkumandang, nafas Kala sudah mulai teratur. Setelah memastikan Kala benar-benar tertidur, Danu mengambil guling yang berada di sisi kanan kasur, kemudian dengan gerakan yang sangat pelan memindahkan tangan Kala yang melingkar di perutnya ke guling yang tadi ia ambil.

Di pandangnya wajah pucat Kala lamat-lamat. Danu selalu merasa tidak tega jika harus melihat Kala jatuh sakit seperti saat ini. Ia tidak suka melihat orang yang ia sayangi merasakan sakit. Jika Danu bisa memindahkan rasa sakit yang Kala rasa kepada dirinya, ia akan memindahkannya. Katakan Danu sebagai budak cinta, – yang biasa orang-orang sebut dengan bucin- tapi memang begitu adanya. 5 tahun menjalin hubungan dengan Kala, Danu tidak pernah merasakan bosan. Justru setiap tahun atau bahkan setiap harinya, rasa sayang Danu terhadap Kala selalu bertambah dan tidak pernah pudar. Danu sangat menyayangi Kala, karna saat ini yang ia punya hanya Kala dan sang adik, Berlian. Danu tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Kala, habis sholat aku langsung pulang ya. Kamu cepet sembuh, aku sedih liat kamu sakit. Aku sayang kamu,” di kecupnya kening Kala ringan. Danu bangkit dari duduknya, bertepatan dengan mama Kala yang masuk ke dalam kamar Kala.

“Danu, Kala nya tidur?”

“Eh, iya, Ma. Baru aja pules”

“Bener 'kan apa kata Mama, Kala gak biarin kamu cepet-cepet pulang”

Danu yang mendengar gurauan mama Kala hanya terkekeh pelan.

“Kamu Sholat dulu aja disini, Danu”

“Iya, Ma, Danu emang niatnya mau numpang sholat disini”

“Nah kebetulan ada papanya Kala baru pulang, beliau minta kamu jadi imam”

Danu diam sejenak untuk berpikir. Ia juga sudah lama tidak menjadi imam saat sholat semenjak kepergian kedua orang tuanya. Akhirnya Danu menyetujui permintaan papa Kala.

“Gimana, Danu? Mau ya?”

“Iya Danu mau kok, Ma”

“Alhamdulillah, yuk turun. Papanya Kala lagi wudhu nanti abis itu kamu, gantian”

Danu dan mama Kala keluar dari kamar Kala kemudian beralih ke ruangan yang memang di sediakan untuk melakukan ibadah apa bila ada tamu datang dan ingin menumpang sholat.

Danu selalu bersyukur, ia bisa kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga dari orang tua sang kekasih. Kedua orang tua Kala selalu menganggap Danu seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga percaya bahwa Danu adalah lelaki yang bisa menjaga Kala dan mereka juga percaya Danu tidak akan berbuat macam-macam terhadap anak gadis semata wayangnya.

Selesai melaksankan ibadah sholat maghrib, Danu berpamitan kepada orang tua Kala untuk kembali ke rumah khawatir sang adik sudah menunggu. Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil milik Danu keluar dari pekarangan rumah Kala.

#When Kala Sick

Selesai mengerjakan semua pekerjaan dan sudah memasuki jam pulang kerja, Danu bergegas merapihkan barang-barangnya kemudian berpamitan dengan tim kerjanya.

“Semuanya saya duluan ya”

Seisi ruangan serentak menjawab, “Iya, Pak!”

“Eh, Nu, buru-buru banget kayaknya kenapa dah?” Tanya Dimas, salah satu teman dekat Danu di kantor.

“Cewe gue sakit, udah janji mau ke rumahnya”

“Oh, ya udah hati-hati. Cepet sembuh ya cewek lo”

“Yo, thanks. Gue berangkat”

Danupun buru-buru jalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Karna sore ini termasuk jam pulang kantor, jalanan padat akan kendaraan. Tapi setidaknya masih bisa bergerak, tidak padat merayap. Di perjalanan Danu mampir sebentar untuk membeli jus jambu dan bubur ayam untuk Kala dan sate padang untuk mama Kala. Akhirnya Danu sampai di kediaman Kala tepat pukul setengah lima sore.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, sebentar.”

Pintu rumah terbuka dan menampilkan mama Kala dengan pakaian khas rumahannya dan senyum yang terpatri di wajahnya.

“Eh Danuu, masuk-masuk”

“Iya, Ma. Ini Danu beli sate padang buat Mama”

“Ya Allah, Danu, repot-repot deh, makasih yaa”

“Sama-sama, Ma. Kala?”

“Oh iya, langsung ke kamarnya aja. Bentar ya, Danu, kamu mama bikinin teh anget. Capek pasti pulang kerja”

“Eh, Ma, gak usah. Danu sebentar aja kok”

“Aduh, Danu. Mama gak yakin kamu disini cuma sebentar, Kala pasti gak bolehin kamu pulang cepet-cepet. Udah sana naik, Mama ke dapur dulu,” di tepuknya bahu Danu dengan senyuman jahil yang terpatri. Kemudian sang mama pergi ke dapur.

“Makasih, Ma”

Danu beranjak pergi, sesampainya di kamar Kala ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendengar sautan dari sang empunya kamar, Danupun membuka pintu kemudian masuk dan membiarkan pintunya terbuka.

“Danu..”

“Hai,” Danu menaruh jus dan bubur ayam yang ia beli di atas nakas lalu duduk di pinggir ranjang.

“Pusing gak?”

“Pusing”

Tangan kanan Danu bergerak mengelus kepala Kala.

“Udah minum obat?”

“Belum, aku belum makan”

Danu menyiapkan bubur ayam yang tadi ia beli untuk di makan Kala. Kemudian membantu Kala duduk di kasurnya.

“Makan dulu ya aku suapin”

“Kamu kenapa beli bubur ayam? aku mau ayam geprek”

“Kamu lagi sakit, gak usah macem-macem. Nanti kalau udah sembuh baru aku beliin ayam geprek”

“Bener yaa?”

“Iya, Sayangg. Buka mulutnya, aaaa”

Mama Kala datang dengan membawa air teh hangat untuk Danu dan botol minum berisi air putih untuk Kala.

“Aduh, manja banget,” ucap mama Kala dengan kekehan.

“Ini Danu tehnya Mama taruh sini ya. Abis makan jangan lupa minum obat ya, Kala. Minumnya udah Mama bawain nih”

“Iya, Mama”

“Makasih, Ma, tehnya”

“Mama ke bawah lagi ya, Kala jangan macem-macam kamu”

“Ya Allah iya, Ma”

Danu yang mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya bisa tertawa pelan. Setelahnya mama Kala pergi keluar kamar.

“Kamu udah ke dokter?”

“Udah tadi siang. Aku kan emang dari dua hari lalu gak enak badan,”

Sesekali ucapan Kala terhenti karna menerima suapan bubur dari Danu.

“Terus kemaren diajak Ivy jajan pinggir jalan, ternyata bahan makanannya ada yang gak cocok sama aku jadinya kata dokter, aku keracunan terus kalau minggu depan belum sembuh harus di rawat,”

“Ivy juga abis makan itu katanya buang-buang air tapi gak sampe drop kayak aku sih untungnya”

“Lain kali hati-hati ya kalau jajan”

“Iyaa. Nu, udah makannya perut aku mulai gak enak”

“Satu kali lagi”

“Enggak”

“Ya udah, air putihnya minum nanti minum obat”

“Obatnya di laci nakas”

Danu memberikan botol minum kepada Kala kemudian merapihkan bubur ayam yang masih tersisa banyak. Ia mengambil obat Kala yang ada di laci nakas.

Setelah menyiapkan obat untuk Kala minum nanti, tangan Danu bergerak merapihkan rambut Kala yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga.

Merasakan perutnya yang mual, Kala buru-buru bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Danu mengikuti Kala ke kamar mandi, khawatir perempuannya itu terjatuh karna badannya terlihat lemas. Danu juga membantu memegangi rambut Kala agar tidak kotor, sesekali ia juga memijat tengkuk Kala agar Kala bisa mengeluarkan semua isi perutnya.

“Udah?”

Kala mengangguk. Tanpa rasa jijik Danu mengusap wajah Kala menggunakan air dengan lembut. “Kamu balik lagi sana ke dalem, ini biar aku yang bersihin”

“Aku aja”

“Jangan paksain, kamu lemes gitu. Dah sana masuk, obatnya di minum”

Kala kembali ke dalam kamar kemudian meminum obatnya. Karna kepalanya yang pusing dan juga rasa kantuk yang melanda akibat efek samping obat, ia merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian Danu datang dengan lengan kemeja yang di gulung dan satu kancing atas yang terbuka.

Danu menghampiri Kala kemudian kembali duduk di pinggir ranjang, tangannya kembali mengelus kepala Kala, “obatnya udah di minum?”

“Udah. Danu jusnya buat nanti malem aja deh, maaf ya”

“Gapapaa, sekarang kamu istirahat aja yaa. Aku pulang dulu”

“Enggak! Jangan pulang, nanti aja”

“Sebentar lagi maghrib, Sayang”

“Ya makanya, maghriban disini dulu aja”

“Ya udah aku tetep disini tapi kamu tidur yaa”

Kala mengangguk, memposisikan badannya agar menghadap Danu, melingkarkan tangannya di perut Danu. Tangan kanan Danu setia mengelus kepala Kala agar perempuannya itu cepat tertidur.

Tepat adzan Maghrib berkumandang, nafas Kala sudah mulai teratur. Setelah memastikan Kala benar-benar tertidur, Danu mengambil guling yang berada di sisi kanan kasur, kemudian dengan gerakan yang sangat pelan memindahkan tangan Kala yang melingkar di perutnya ke guling yang tadi ia ambil.

Di pandangnya wajah pucat Kala lamat-lamat. Danu selalu merasa tidak tega jika harus melihat Kala jatuh sakit seperti saat ini. Ia tidak suka melihat orang yang ia sayangi merasakan sakit. Jika Danu bisa memindahkan rasa sakit yang Kala rasa kepada dirinya, ia akan memindahkannya. Katakan Danu sebagai budak cinta, – yang biasa orang-orang sebut dengan bucin- tapi memang begitu adanya. 5 tahun menjalin hubungan dengan Kala, Danu tidak pernah merasakan bosan. Justru setiap tahun atau bahkan setiap harinya, rasa sayang Danu terhadap Kala selalu bertambah dan tidak pernah pudar. Danu sangat menyayangi Kala, karna saat ini yang ia punya hanya Kala dan sang adik, Berlian. Danu tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Kala, habis sholat aku langsung pulang ya. Kamu cepet sembuh, aku sedih liat kamu sakit. Aku sayang kamu,” di kecupnya kening Kala ringan. Danu bangkit dari duduknya, bertepatan dengan mama Kala yang masuk ke dalam kamar Kala.

“Danu, Kala nya tidur?”

“Eh, iya, Ma. Baru aja pules”

“Bener 'kan apa kata Mama, Kala gak biarin kamu cepet-cepet pulang”

Danu yang mendengar gurauan mama Kala hanya terkekeh pelan.

“Kamu Sholat dulu aja disini, Danu”

“Iya, Ma, Danu emang niatnya mau numpang sholat disini”

“Nah kebetulan ada papanya Kala baru pulang, beliau minta kamu jadi imam”

Danu diam sejenak untuk berpikir. Ia juga sudah lama tidak menjadi imam saat sholat semenjak kepergian kedua orang tuanya. Akhirnya Danu menyetujui permintaan papa Kala.

“Gimana, Danu? Mau ya?”

“Iya Danu mau kok, Ma”

“Alhamdulillah, yuk turun. Papanya Kala lagi wudhu nanti abis itu kamu, gantian”

Danu dan mama Kala keluar dari kamar Kala kemudian beralih ke ruangan yang memang di sediakan untuk melakukan ibadah apa bila ada tamu datang dan ingin menumpang sholat.

Danu selalu bersyukur, ia bisa kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga dari orang tua sang kekasih. Kedua orang tua Kala selalu menganggap Danu seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga percaya bahwa Danu adalah lelaki yang bisa menjaga Kala dan mereka juga percaya Danu tidak akan berbuat macam-macam terhadap anak gadis semata wayangnya.

Selesai melaksankan ibadah sholat maghrib, Danu berpamitan kepada orang tua Kala untuk kembali ke rumah khawatir sang adik sudah menunggu. Tepat pukul setengah tujuh malam, mobil milik Danu keluar dari pekarangan rumah Kala.